BANDUNG — Sebanyak 42 UPJA yang tersebar di 31 kecamatan Kabupaten Bandung menjadi sasaran program penguatan kapasitas manajemen usaha. Pelatihan ini digelar menyusul hasil evaluasi tiga bulan terakhir yang menunjukkan masih banyak kekurangan di lapangan, terutama dalam hal pencatatan keuangan dan kemampuan manajerial.
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tersebut berlangsung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Solokan Jeruk. UICM Bandung menggandeng Dinas Pertanian untuk membekali para pengelola UPJA agar usahanya lebih profesional dan akuntabel.
Kendala yang Diungkap Dinas Pertanian
Kepala UPTD Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Indah Yuliana, menyebut pembinaan manajemen sangat krusial bagi keberlangsungan puluhan UPJA tersebut. Karakteristik komoditas pertanian di Kabupaten Bandung yang beragam—mulai dari tanaman pangan, hortikultura, hingga perkebunan—menuntut pengelolaan yang rapi.
“Manajemen itu krusial, bukan hanya untuk usaha tetapi juga rumah tangga. Apalagi ini lembaga usaha, pembukuan dan manajerialnya harus jelas. Evaluasi tiga bulan terakhir menunjukkan masih banyak kekurangan di lapangan. Kehadiran akademisi melalui kerja sama ini sangat membantu kami di tengah keterbatasan anggaran pembinaan,” ujar Indah di sela kegiatan PKM, Rabu (2/9/2026).
Skema Kredit untuk Petani
Indah menambahkan, tata kelola yang baik akan membuka peluang lebih besar bagi pengelola UPJA dan petani untuk mendapatkan akses permodalan. Pihaknya kini tengah mendorong kemudahan kredit melalui skema yarnen atau bayar setelah panen.
Skema tersebut diharapkan meringankan kelompok tani dalam memenuhi kebutuhan alat dan mesin pertanian. Petani tidak lagi terbebani pembayaran rutin mingguan ataupun bulanan, karena pembayaran dilakukan setelah panen.
Tiga Pilar Pengabdian UICM
Wakil Rektor II UICM Bandung, Agus Ismail, mengatakan keterlibatan perguruan tinggi dalam kegiatan ini adalah bentuk komitmen untuk keluar dari konsep “menara gading”. Pihaknya menyasar tiga pilar utama dalam pengabdian tersebut: people, process, dan technology.
“Teknologi alsintan sudah disiapkan oleh dinas, maka tugas kami adalah membekali people-nya. Tanpa SDM yang paham manajerial dan pembukuan, potensi usaha tidak akan maksimal,” kata Agus.
Materi yang diberikan mencakup dasar-dasar manajerial POAC—planning, organizing, actuating, dan controlling—serta kemampuan komunikasi efektif. Persoalan pencatatan keuangan disebut Agus menjadi kendala mendasar yang membuat banyak usaha mikro dan kelompok tani sulit berkembang.
“Banyak pelaku usaha mikro atau kelompok tani yang sulit berkembang dan ditolak saat mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) karena tidak akuntabel. Pencatatan keuangan masih menyatu dengan pribadi dan tidak ada cash flow yang jelas. Ini yang ingin kita benahi bersama secara berkelanjutan,” tuturnya.
Target Ke Depan
Kolaborasi antara UICM Bandung dan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung diharapkan mampu mendorong UPJA menjadi lebih profesional, mandiri, dan akuntabel. Penguatan kapasitas ini pada akhirnya ditujukan untuk mendukung sektor pertanian serta ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.