Pencarian

Energi Terbarukan 3.000 GW Jadi Mesin Baru Perekonomian, Ini Strategi Pemerintah

Rabu, 09 September 2026 • 09:33:01 WIB
Energi Terbarukan 3.000 GW Jadi Mesin Baru Perekonomian, Ini Strategi Pemerintah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan target pertumbuhan ekonomi 8% memerlukan energi baru terbarukan sebagai penggerak utama perekonomian nasional.

JAWA BARAT — JAKARTA – Jalan menuju pertumbuhan ekonomi 8% tidak lagi hanya bertumpu pada ekspor komoditas atau konsumsi domestik. Pemerintah mulai memposisikan sektor energi, khususnya energi baru terbarukan (EBT), sebagai penggerak utama perekonomian nasional.

Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi, menegaskan bahwa target ambisius tersebut membutuhkan sumber pertumbuhan baru. “Pertumbuhan 8% itu kita butuh engine baru, kita butuh engine pertumbuhan baru,” ujarnya dalam gelaran Accelerating Growth Through Clean Energy & Industrial Transformation di Jakarta, Selasa (8/9).

Potensi Energi Raksasa yang Belum Tergarap

Indonesia memiliki potensi EBT yang luar biasa besar, mencapai lebih dari 3.000 GW. Namun, tantangannya bukan sekadar mengubah potensi itu menjadi pembangkit listrik. Pemerintah ingin energi bersih ini terintegrasi ke dalam ekosistem industri yang mampu menghasilkan nilai ekonomi berlipat.

Elen menjelaskan bahwa pengembangan EBT kini berada di persimpangan antara agenda lingkungan dan strategi ekonomi. Sektor-sektor seperti industri baterai kendaraan listrik, manufaktur berbasis energi bersih, hingga kawasan industri hijau membutuhkan pasokan listrik yang kompetitif dan rendah karbon. Kondisi ini membuka peluang untuk menarik modal asing sekaligus memperkuat rantai nilai domestik.

Investasi Hijau dan Daya Tarik bagi Investor Global

Pergeseran arah ini juga mengubah peta investasi. Direktur Deregulasi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Dendy Apriandi, menyebut faktor keberlanjutan kini menjadi pertimbangan utama investor global. “Investasi hijau tidak hanya bicara energi, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem industri yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian,” katanya. Para investor mulai menilai aspek ESG dan kebutuhan energi rendah karbon sebelum memutuskan menanamkan modal.

Salah satu sektor yang paling jelas memperlihatkan keterkaitan ini adalah ekosistem baterai kendaraan listrik. Indonesia memiliki cadangan nikel, aluminium, dan tembaga yang menjadi bahan baku utama. Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, menekankan bahwa pembangunan industri ini tidak bisa parsial. “Kalau kita bicara baterai, kita tidak bisa melihat hanya dari sisi produk akhirnya. Kita harus membangun ekosistem dari hulu sampai hilir,” ungkapnya.

Energi Surya hingga Kawasan Industri Berbenah

Permintaan energi surya pun ikut meningkat. Chief Executive Officer SUN Energy, Emmanuel Jefferson, menilai energi terbarukan kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi industri yang ingin menjaga daya saing. “Energi terbarukan sekarang bukan lagi hanya pilihan, tetapi mulai menjadi kebutuhan bagi industri yang ingin menjaga daya saing,” ujarnya.

Perubahan ini memaksa kawasan industri beradaptasi. Division Head of Smart-Eco Industrial Park Development KIIC, Haris Arianto, mengatakan kawasan industri tidak lagi cukup menawarkan lahan dan infrastruktur. “Kawasan industri ke depan harus mampu menyediakan ekosistem yang mendukung kebutuhan investor, termasuk dari sisi energi bersih dan keberlanjutan,” katanya. Konsep smart eco industrial park menjadi strategi untuk meningkatkan daya saing.

Dengan potensi energi yang melimpah dan arah kebijakan yang semakin jelas, Indonesia memiliki modal kuat untuk menarik investasi hijau. Keberhasilan mengintegrasikan EBT ke dalam sektor industri akan menentukan apakah target pertumbuhan 8% bisa tercapai dalam beberapa tahun mendatang.

Follow jabarprime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks