Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya mencatat nilai pembelian saham di enam wilayah Priangan Timur, Jawa Barat, mencapai Rp996,07 miliar pada Juni 2026. Angka ini melonjak 116,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp460,65 miliar. Pertumbuhan ini seiring dengan meningkatnya jumlah investor pasar modal yang terdaftar di wilayah tersebut.
TASIKMALAYA — Aktivitas investasi di Priangan Timur menunjukkan akselerasi signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya melaporkan nilai transaksi pembelian saham di wilayah yang meliputi Kota/Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran ini menembus Rp996,07 miliar per Juni 2026.
Kepala OJK Tasikmalaya, Nofa Hermawati, mengungkapkan capaian itu tumbuh 116,23 persen secara tahunan (year on year/yoy) jika dibandingkan periode yang sama di 2025 yang berada di angka Rp460,65 miliar.
Nilai Penjualan Saham Ikut Terdongkrak
Di sisi lain, nilai penjualan saham di kawasan tersebut juga tercatat meningkat. Realisasinya mencapai Rp927,26 miliar atau tumbuh 112,02 persen (yoy) dari posisi Juni 2025 yang sebesar Rp437,34 miliar.
"Pertumbuhan saham itu menunjukkan semakin aktifnya masyarakat di wilayah Priangan Timur melakukan transaksi di pasar modal," kata Nofa Hermawati di Kota Tasikmalaya, Rabu.
Jumlah Investor Reksadana Melonjak Hampir Dua Kali Lipat
Peningkatan transaksi itu berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah investor yang tercatat melalui Single Investor Identification (SID). Hingga Juni 2026, jumlah SID saham mencapai 246.382 investor, tumbuh 38,44 persen (yoy).
Lonjakan yang lebih tinggi justru terjadi pada instrumen reksadana. Jumlah SID reksadana kini mencapai 867.248 investor, meningkat signifikan sebesar 118,64 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) juga mencatatkan pertumbuhan positif. Jumlah SID SBN tercatat sebanyak 18.565 investor, tumbuh 30,69 persen (yoy).
Partisipasi Masyarakat Kian Luas
Nofa menambahkan, tingginya pertumbuhan di ketiga instrumen tersebut menggambarkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola keuangan. Investasi tidak lagi terbatas pada instrumen perbankan konvensional.
"Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam investasi di pasar modal, baik melalui instrumen saham, reksadana maupun Surat Berharga Negara," ujarnya.
Fenomena ini dinilai sebagai sinyal positif bagi literasi dan inklusi keuangan di kawasan Priangan Timur. Masyarakat mulai melirik alternatif investasi selain tabungan dan deposito untuk mengembangkan nilai aset mereka.