BANDUNG BARAT — Nilai-nilai Pancawaluya tidak boleh berhenti sebagai slogan di dinding sekolah. SMAN 22 Bandung memilih jalan lain: mengumpulkan para pendidiknya di Lembang untuk memastikan kelima nilai itu benar-benar dihidupi oleh guru sebelum diajarkan ke murid. Pelatihan ini digelar di BBPP Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dengan menghadirkan motivator Waluyo Adi Prasojo, S.Pd sebagai pemateri utama.
Kegiatan yang dibuka Kepala SMAN 22 Bandung, Evi Vironita, S.Pd ini mengusung semangat "Bergerak Bersama, Berkinerja Optimal agar Bisa Terbaik". Materi yang disampaikan tidak hanya berkutat pada metode mengajar, tetapi juga menyentuh pendidikan karakter, character building, serta spiritual leadership.
Guru Harus Lebih Dulu Menjadi Pribadi Pancawaluya
Evi Vironita menegaskan bahwa transformasi karakter di sekolah tidak akan berjalan jika hanya diarahkan kepada siswa. Menurutnya, guru adalah cermin utama bagi peserta didik. Sebelum meminta siswa menjadi pribadi yang baik dan tangguh, para pendidik harus lebih dulu menumbuhkan nilai tersebut dalam dirinya.
"Kami ingin para guru tidak hanya semakin kuat dalam kompetensi profesional, tetapi juga memiliki energi yang sama dalam membangun karakter siswa. Guru adalah teladan. Karena itu, sebelum kita meminta siswa menjadi pribadi yang baik, benar, cerdas, sehat, dan tangguh, nilai-nilai tersebut harus terlebih dahulu tumbuh dalam diri para pendidiknya," ujar Evi.
Bukan Sekadar Konsep, tapi Budaya Sekolah yang Hidup
Dalam sesi motivasi, Waluyo Adi Prasojo menekankan bahwa keteladanan memiliki kekuatan pesan yang jauh lebih besar dibanding sekadar instruksi verbal. Nilai yang disampaikan kepada siswa akan lebih mudah diterima apabila tercermin dalam sikap, perilaku, cara berkomunikasi, serta budaya kerja para pendidik sehari-hari.
Evi menambahkan, Pancawaluya harus menjadi budaya yang hidup di lingkungan sekolah, bukan sekadar materi hafalan. Kelima nilai tersebut—cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (terampil)—harus tercermin dalam interaksi harian, baik di kelas maupun di luar kelas.
"Pancawaluya bukan sekadar konsep, tetapi harus menjadi budaya yang hidup di sekolah. Cageur, bageur, bener, pinter, dan singer harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik oleh guru maupun siswa. Melalui kegiatan ini kami berharap seluruh guru semakin memahami bahwa pendidikan karakter dimulai dari keteladanan dan dilakukan secara bersama-sama," katanya.
Membangun Ekosistem Karakter di Tengah Tantangan Zaman
Pelatihan ini dirancang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga membangun kekompakan, kepemimpinan, dan semangat kolaborasi antar-guru. Pendekatan ini dinilai relevan dengan tantangan pendidikan saat ini, di mana sekolah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan unggul secara akademik.
Sekolah juga dituntut membentuk pribadi yang sehat, berakhlak, berintegritas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Guru menempati posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan peserta didik dan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem karakter di sekolah.
Penguatan nilai Pancawaluya melalui kegiatan ini diharapkan mampu diterjemahkan ke dalam perilaku nyata, mulai dari cara guru membangun disiplin, menyelesaikan persoalan, hingga memberikan pelayanan pendidikan yang humanis. Dengan demikian, pembentukan karakter tidak lagi menjadi program musiman, melainkan denyut nadi keseharian di SMAN 22 Bandung.