BOGOR — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memimpin langsung kirab budaya Milangkala Tatar Sunda yang membawa Mahkota Binokasih Sanghyang Pake melintasi jalanan Kota Bogor. Mengenakan pakaian serba putih sambil menunggang kuda, ia memulai perjalanan dari Museum Pajajaran di Jalan Batutulis.
Iring-iringan ini menjadi momen sakral karena menghadirkan mahkota asli raja-raja Sunda Pajajaran ke pusat kota. Sejumlah pejabat seperti Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim dan Bupati Bogor Rudy Susmanto turut mendampingi di barisan depan bersama para tokoh adat dari berbagai daerah.
“Kirab Mahkota Binokasih menjadi momentum untuk mengembalikan nilai-nilai sejarah dan budaya Sunda di tanah Pajajaran,” ujar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Mengapa Mahkota Binokasih Sanghyang Pake Dikembalikan ke Bogor?
Kehadiran mahkota ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menelusuri kembali akar sejarah Pakuan Pajajaran yang berpusat di Bogor. Mahkota Binokasih memiliki keterkaitan emosional dan historis yang sangat kuat dengan wilayah ini sebagai peninggalan utama leluhur Sunda.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menilai kegiatan ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat dalam menghargai warisan masa lalu. Ia menekankan bahwa nilai-nilai tersebut harus menjadi pelajaran bagi generasi mendatang dalam menjaga dan membangun daerah.
“Ini sebuah rangkaian kegiatan yang penuh makna. Makna tentang bagaimana kita menghargai warisan para leluhur kita,” kata Dedie.
Belasan Kampung Adat dan Kesenian Lintas Provinsi Ikut Meriahkan Kirab
Sebanyak 14 kampung adat dari penjuru Jawa Barat turun ke jalan untuk berpartisipasi. Nama-nama seperti Kampung Adat Gelaralam, Sinarresmi, Ciptamulya, Naga, Urug, Kuta, Dukuh, hingga Cigugur dan Cireundeu terlihat membawa atribut khas wilayah masing-masing dalam barisan kirab.
Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya 25 jenis kesenian dari kabupaten dan kota di Jawa Barat. Masyarakat disuguhi penampilan Tari Payung dari Bogor, Tari Topeng Cisalak dari Depok, Tari Topeng Cirebon, hingga atraksi Kuda Renggong asal Sumedang yang atraktif.
Tidak hanya dari Jawa Barat, kirab ini juga merangkul keragaman budaya daerah tetangga. Penonton menyaksikan penampilan Ondel-ondel DKI Jakarta, Rampak Bedug Banten, serta dentuman Kenthongan dan Calung dari Jawa Tengah.
Rencana Penataan Kawasan Surya Kencana Jadi Agenda Prioritas
Gubernur Dedi Mulyadi mengusulkan agar kirab budaya ini tidak berhenti sebagai acara sekali jalan, melainkan menjadi agenda tahunan tetap. Ia mendorong Pemerintah Kota Bogor untuk mengintegrasikan kegiatan ini dengan penataan kawasan komersial dan budaya Surya Kencana.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen memberikan perhatian khusus pada perbaikan infrastruktur di sepanjang jalur kirab. Fokus utama meliputi peningkatan kualitas jalan hingga sistem penerangan jalan umum guna mendukung estetika kawasan bersejarah tersebut.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Dedie A. Rachim menyambut baik dukungan provinsi terkait pelestarian budaya dan penataan kota. Proses perencanaan dan penganggaran akan segera disusun sesuai aturan tata kelola pemerintahan agar program tersebut dapat terealisasi secara berkelanjutan.