BANDUNG — Minggu-minggu terakhir ini, para pendaki yang berencana menaklukkan puncak Gunung Gede, Pangrango, atau Papandayan harus menunda rencananya. Pemprov Jawa Barat memutuskan menutup sementara seluruh aktivitas pendakian di semua gunung dan kawasan hutan sebagai respons atas tingginya kerentanan kebakaran selama musim kemarau.
Larangan Berlaku untuk Semua Wilayah Hingga Waktu yang Belum Ditentukan
Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 116/KH.02.04.03/ASDA EKBANG tentang Larangan Pendakian Gunung/Hutan di Wilayah Jawa Barat Selama Musim Kemarau. Edaran tersebut ditandatangani Gubernur Dedi Mulyadi dan mulai disosialisasikan pada Selasa (1/9/2026) lalu.
Inti kebijakannya tegas: melarang semua aktivitas pendakian gunung atau hutan sekaligus aktivitas lain yang berisiko memantik bencana kebakaran. Instruksi ini disampaikan langsung oleh Dedi dalam surat edaran yang diterima detikJabar.
Mengapa Pendakian Ditutup di Tengah Kemarau?
Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Dedi menjelaskan, musim kemarau membuat kondisi vegetasi di kawasan gunung menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Aktivitas manusia di jalur pendakian dinilai menjadi salah satu faktor pemicu utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Barat.
"Melarang semua aktivitas pendakian gunung/hutan di wilayah Jawa Barat dan/atau aktivitas lainnya yang berisiko memantik terjadinya bencana kebakaran, selama musim kemarau," demikian pernyataan Dedi dalam surat edaran tersebut.
Siapa Saja yang Berkewajiban Mengawasi Larangan Ini?
Surat edaran ini tidak hanya ditujukan kepada para bupati dan wali kota se-Jawa Barat. Gubernur juga menginstruksikan langkah serupa kepada Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Barat dan Banten serta Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.
Selain Larangan, Ada Instruksi Sosialisasi Masif
Lebih dari sekadar menutup akses, Gubernur meminta jajaran terkait untuk bergerak aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Tujuannya, agar warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan maupun pendaki tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu karhutla.
Hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian kapan jalur pendakian di Jawa Barat akan dibuka kembali. Penutupan akan berlangsung selama musim kemarau, dan peninjauan ulang kemungkinan dilakukan setelah kondisi cuaca mulai memasuki musim hujan.