BOGOR — Pedagang beras di Pasar Cibinong mencatat kenaikan harga bertahap untuk jenis beras termurah dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan tersebut membebani daya beli warga yang biasa membeli dalam jumlah banyak untuk kebutuhan harian.
Anton (37), salah satu pedagang beras di pasar tersebut, mengatakan pergerakan harga mulai terasa sejak pertengahan Juli lalu. Ia menyebutkan, harga beras termurah yang semula Rp 13.000 per kilogram kini berada di level Rp 13.700 per kilogram.
"Naik dari Rp 13.000, jadi Rp 13.300, sekarang sudah Rp 13.700 per kilogram. Itu beras paling murah," kata Anton kepada BogorToday, Senin (24/8/2026).
Dua Faktor Utama Pemicu Kenaikan Harga
Anton menduga kenaikan harga ini dipicu oleh dua hal sekaligus. Pertama, kebijakan kenaikan harga BBM yang membuat biaya distribusi beras dari petani ke pasar ikut membengkak.
Kedua, musim kemarau panjang yang melanda sejumlah sentra produksi padi di Jawa Barat. Kondisi ini berdampak langsung pada berkurangnya pasokan gabah ke penggilingan, sehingga harga di tingkat petani pun ikut naik.
Kombinasi keduanya membuat harga eceran di pasar ikut terkerek naik, meskipun permintaan dari pembeli cenderung stabil.
Dampak ke Pembeli dan Prospek Stok
Kenaikan Rp 700 per kilogram mungkin terlihat kecil, tetapi berdampak nyata bagi warga yang membeli beras dalam karungan. Untuk pembelian 10 kilogram, pengeluaran bertambah sekitar Rp 7.000 dalam sekali transaksi.
Belum ada tanda-tanda harga akan turun dalam waktu dekat. Para pedagang masih menunggu kepastian musim panen berikutnya serta evaluasi harga BBM di tingkat nasional.
Mereka berharap pemerintah daerah segera menggelar operasi pasar untuk menahan laju kenaikan harga kebutuhan pokok di Kabupaten Bogor.