JAWA BARAT — Penasihat Kebijakan Kremlin, Yuri Ushakov, mengonfirmasi bahwa Presiden Indonesia akan menjadi tamu utama dalam forum tahunan tersebut. Pertemuan bilateral antara Prabowo dan Putin dijadwalkan berlangsung di sela-sela agenda utama forum.
"Kali ini, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menjadi tamu utama Eastern Economic Forum ke-11," ujar Ushakov kepada wartawan, seperti dikutip dari Sputnik, Senin 31 Agustus 2026.
Forum Tahun Ini dan Daftar Pemimpin yang Hadir
EEF 2026 akan digelar pada 1-4 September di kampus Universitas Federal Timur Jauh, Vladivostok. Selain Prabowo, sejumlah pemimpin kawasan dipastikan hadir dalam sesi pleno, di antaranya Perdana Menteri Mongolia Nyam-Osoryn Uchral, Wakil Presiden Myanmar Nyo Saw, dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Ding Xuexiang.
Apa Itu Eastern Economic Forum
EEF merupakan forum internasional tahunan yang digagas untuk mendorong investasi asing dan kerja sama ekonomi di kawasan Timur Jauh Rusia serta Asia-Pasifik. Forum ini pertama kali digelar pada 2015 berdasarkan dekrit Presiden Rusia.
Agenda utama forum mencakup tiga hal pokok. Pertama, pengembangan potensi ekonomi dan pembangunan di wilayah Timur Jauh Rusia. Kedua, perluasan kerja sama bisnis dengan negara-negara Asia-Pasifik. Ketiga, menjadi wadah pertemuan antara pejabat pemerintah, investor, dan pelaku usaha global untuk meluncurkan proyek-proyek baru.
Signifikansi Kunjungan bagi Indonesia
Undangan sebagai tamu utama menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam percaturan ekonomi kawasan. Kehadiran Prabowo di forum ini menjadi sinyal penguatan peran Indonesia di kawasan Asia-Pasifik, khususnya dalam menjembatani hubungan ekonomi dengan negara-negara Timur Jauh Rusia.
Partisipasi dalam forum ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk menjajaki investasi di kawasan yang tengarai memiliki potensi besar di sektor energi, infrastruktur, dan sumber daya alam. Namun, bahan resmi yang dirilis belum memerinci sektor-sektor spesifik yang akan menjadi fokus pembahasan bilateral.
Pertemuan antara Prabowo dan Putin pada 3 September nanti akan menjadi ujian bagi konsistensi politik luar negeri Indonesia yang selama ini menganut prinsip bebas-aktif. Menarik dicermati apakah kedua pemimpin akan membahas isu-isu strategis di luar agenda ekonomi, seperti kerja sama pertahanan atau posisi Indonesia di tengah ketegangan global yang melibatkan Rusia.