MAJALENGKA — Memasuki musim kemarau tahun ini, debit air di Bendung Rentang yang menjadi sumber irigasi utama bagi tiga kabupaten di Jawa Barat terus mengalami penurunan. Berdasarkan data pengelola, Senin lalu, debit aliran tercatat sebesar 82,408 meter kubik per detik dengan ketinggian permukaan air 5,78 meter pada elevasi 22,78 meter di atas permukaan laut. Kondisi ini dipicu oleh tingginya penguapan akibat panas matahari dan angin kencang, serta menyusutnya aliran dari anak-anak sungai yang bermuara ke Sungai Cimanuk.
Di sisi lain, permintaan pasokan air dari Unit Pengelola Irigasi (UPI) di Majalengka, Indramayu, dan Cirebon justru meningkat sejak awal bulan ini. Kenaikan permintaan terjadi karena sebagian wilayah tengah gencar melakukan pengolahan lahan dan persiapan tanam, sementara di wilayah lain kebutuhan mulai berkurang seiring selesainya tahap pengolahan.
Distribusi Air Dikontrol Ketat agar Tak Ada Lahan Kekeringan
Pengelola Bendung Rentang, Dedi Supriady, mengatakan saat ini kebutuhan yang masuk masih dapat dipenuhi. Namun, pengaturan distribusi harus dilakukan secara ketat dan seimbang agar aliran air yang tersisa bisa dibagi secara adil ke seluruh jaringan irigasi.
“Hal ini bertujuan agar aliran air yang tersisa dapat dibagi secara adil ke seluruh jaringan irigasi, sehingga tidak ada wilayah yang mengalami kekurangan pasokan yang dapat mengancam tanaman padi maupun lahan pertanian lainnya,” kata Dedi.
Ia menambahkan, sejak awal bulan ini, pihaknya terus menerima permintaan pasokan air dari UPI di Indramayu dan Cirebon. Jumlahnya beragam, tergantung tahap pengolahan lahan di masing-masing wilayah.
Pasokan dari Waduk Jatigede Masih Aman, Tapi Waspada
Pasokan utama air Bendung Rentang masih didukung kiriman dari Waduk Jatigede dengan debit sekitar 78 meter kubik per detik. Tampungan waduk tersebut tercatat masih aman di angka 79 persen dari total kapasitas. Selain itu, aliran dari beberapa anak sungai yang bermuara ke Cimanuk juga masih menyumbang, meskipun mulai menipis.
Dari total tampungan sekitar 779 juta meter kubik, air didistribusikan secara terukur ke tiga saluran utama. Sebanyak 44,126 meter kubik per detik dialirkan ke Saluran Induk Sindupraja, 33,155 meter kubik per detik ke Saluran Induk Cipelang, dan 5,127 meter kubik per detik dialirkan kembali ke Sungai Cimanuk.
“Penyusutan air di musim kemarau memang hal yang biasa, akibat penguapan tinggi karena panas dan angin kencang, serta berkurangnya aliran dari anak sungai, sementara pola pemakaian air untuk masa tanam kedua tetap berjalan seperti biasa,” jelas Dedi.
Petani Mulai Gunakan Pompa Air Tambahan
Di tingkat petani, dampak penyusunan air mulai terasa. Sebagian besar petani di wilayah Majalengka yang bergantung pada aliran dari Saluran Induk Sindupraja dan Cipelang mulai bersiap-siap dengan mengoperasikan pompa air tambahan untuk menjaga kelembapan lahan. Namun, petani yang berada di dekat aliran utama atau tergabung dalam sistem pengaturan air teratur masih merasakan kondisi yang lebih aman.