CIREBON — Suasana sidang paripurna istimewa yang biasanya diisi pidato pejabat dan laporan pembangunan daerah berubah ketika Taufiq Yusuf naik ke podium. Alumni SMP Negeri 1 Cirebon yang merantau ke Jakarta sejak 1995 itu langsung melontarkan seloroh yang disambut tawa hadirin.
“Saya meninggalkan Cirebon sejak 1995, tetapi masih dapat terlacak oleh Pemerintah Kota Cirebon hingga akhirnya diundang sebagai pembicara,” katanya.
Namun setelah suasana mencair, ia menyampaikan inti pesan yang menjadi alasan kehadirannya: “Kalau dari lorong sempit, harus lahir solusi besar.”
Dari Lahan 5.400 Meter Persegi yang Tertutup Beton
Wilayah yang dipimpin Taufiq hanya seluas sekitar 5.400 meter persegi. Hampir seluruh kawasan tertutup beton dan bangunan padat penduduk dengan ruang terbuka sangat terbatas. Di tempat itulah ia bersama warga membangun konsep Survival Architecture Indonesia.
Pendekatan ini menjawab persoalan lingkungan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat melalui langkah tepat guna dari tingkat RT. Saat berada di Cirebon, ia merasa iri karena kota kelahirannya masih memiliki cukup banyak ruang yang dapat dioptimalkan.
“Kami sedih melihat Cirebon masih banyak tanah kosong, tetapi belum dimanfaatkan,” tuturnya.
Sampah Organik Jadi Pakan Maggot dan Pupuk
Menurut Taufiq, persoalan lingkungan harus dilihat melalui prinsip triple bottom line: people, profit, dan planet. Sumber daya yang paling sering diabaikan, kata dia, adalah sampah rumah tangga.
“Sampah itu tambang emas yang ada di depan mata,” ujarnya.
Di lingkungan yang dipimpinnya, sisa makanan rumah tangga tidak dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sampah organik diolah menjadi pakan maggot yang kemudian dimanfaatkan untuk budidaya ayam dan ikan. Hasil sampingnya kembali digunakan sebagai pupuk sehingga membentuk siklus yang menghasilkan pangan sekaligus mengurangi volume sampah.
“Asal mulanya adalah sampah,” katanya saat menjelaskan konsep tersebut.
Eco Edu Farm: Dari Edukasi hingga Ketahanan Pangan
Keberhasilan program lingkungan itu kemudian berkembang menjadi sistem yang lebih luas melalui konsep Eco Edu Farm. Konsep tersebut menggabungkan edukasi, ketahanan pangan keluarga, penguatan ekonomi warga, dan pelestarian lingkungan dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Taufiq mengaku telah menanam pohon selama 21 tahun dan mengolah kompos secara mandiri selama lebih dari satu dekade sebelum menjadi ketua RT. Menurut dia, kebiasaan memilah sampah dan menghabiskan sampah organik dari rumah sendiri sudah menjadi budaya warga di lingkungannya.
“Tantangan terbesar bukanlah sarana atau pendanaan, melainkan mengubah pola pikir masyarakat,” ujarnya. Pemimpin lingkungan, kata dia, harus mampu menjelaskan tujuan program sekaligus memberi teladan agar warga melihat manfaat nyata dan bersedia terlibat.
Usia Enam Abad, Belajar dari Lingkungan Terkecil
Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-599 Cirebon mengusung tema Manunggal Winangun Caruban. Dalam sidang tersebut, sejumlah capaian pembangunan dipaparkan, mulai dari penghargaan pengendalian inflasi terbaik hingga keberhasilan mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
Namun di tengah berbagai capaian itu, perhatian peserta sidang justru tertuju pada gagasan yang berangkat dari lingkungan terkecil dalam struktur pemerintahan. Taufiq Yusuf membuktikan bahwa solusi besar bisa lahir dari lorong sempit.