JAWA BARAT — Keputusan ini diumumkan langsung oleh Eagle Zhao, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, dalam sebuah pernyataan resmi. "Pada hari ini, BYD Indonesia secara resmi mengumumkan harga yang semakin terjangkau, bahkan tersedia mulai dari Rp 298.000.000, sehingga lebih banyak masyarakat Indonesia dapat merasakan manfaat teknologi DM dalam aktivitas sehari-hari," ujarnya.
PHEV Tembus Harga di Bawah Rp 300 Juta untuk Pertama Kalinya
Sebelum M6 DM meluncur, PHEV termurah di Indonesia adalah Wuling Eksion PHEV CE dan Darion PHEV CE yang dibanderol Rp 449 juta. Dengan selisih lebih dari Rp 150 juta, BYD M6 DM masuk langsung ke "zona emas" pasar otomotif nasional, yaitu segmen Rp 250-350 juta. Di rentang harga inilah mobil-mobil seperti Avanza, Xpander, dan Stargazer bercokol dengan volume penjualan ratusan ribu unit per tahun.
Penjualan PHEV Melonjak 3.775 Persen dalam Dua Tahun
Data pasar menunjukkan tren positif yang konsisten. Penjualan PHEV di Indonesia hanya 136 unit pada 2024, lalu meroket menjadi 5.270 unit pada 2025 — pertumbuhan 3.775 persen. Memasuki 2026, momentum itu berlanjut. Sepanjang Januari-April 2026, sudah terjual 2.089 unit, naik sekitar 2.196 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada April 2026 saja tercatat 569 unit, meningkat 60,3 persen dari bulan sebelumnya.
Skala permintaan ini terlihat nyata saat Wuling Eksion masuk pasar di Rp 449 juta pada April 2026. Dalam waktu singkat, model itu langsung merebut posisi kedua penjualan PHEV nasional dengan 183 unit per bulan. Artinya, begitu harga turun ke level yang lebih terjangkau, respons pasar langsung terasa.
Proyeksi Pasar PHEV 2026: Dari 136 Unit ke 12.000 Unit
Dengan kehadiran BYD M6 DM di harga Rp 298 juta, proyeksi penjualan PHEV Indonesia pada 2026 bisa mencapai 12.000 unit. Angka itu berlipat ganda dari realisasi tahun sebelumnya dan menjadi lompatan terbesar sejak teknologi ini diperkenalkan di Tanah Air. Peluncuran M6 DM pada 12 Juni 2026 disebut-sebut sebagai pemicu utama percepatan adopsi PHEV di Indonesia.