JAWA BARAT — Fletcher mengenang momen tersebut dalam wawancaranya dengan FourFourTwo. Pria yang kini berusia 54 tahun itu mengaku sedang memasuki musim ke-34 bersama AFC Bournemouth, klub yang ia bela sejak datang dari Hartlepool pada usia 19 tahun.
Dua Kali Krisis, Satu Kesadaran yang Sama
Bournemouth bukan kali pertama berada di ujung tanduk saat Fletcher masih aktif bermain. Pada 1997, saat periode pertamanya di klub, receivor atau kurator masuk ke Bournemouth.
“Saat periode pertama saya di klub sebagai pemain pada 1997, receivor dipanggil, tapi kami berkumpul sebagai satu skuad dan memutuskan tetap bermain, meski tidak dibayar,” ujar Fletcher.
“Kalau kami menolak hari itu, klub akan tutup.”
Pengalaman itu terulang pada periode keduanya. Bournemouth kembali masuk administrasi pada 2008, dan Fletcher menjadi satu-satunya pemain yang pernah merasakan situasi serupa sebelumnya.
Eddie Howe dan Jason Tindall Kerjakan Pekerjaan 20-30 Orang
Pada musim setelah administrasi 2008, Bournemouth tidak punya pemilik. Fletcher menyebut Eddie Howe dan Jason Tindall mengerjakan hampir semua pekerjaan yang seharusnya jadi tanggung jawab puluhan orang.
“Kami tidak punya pemilik, dan Eddie Howe serta Jason Tindall mengerjakan setiap pekerjaan yang tersedia — pekerjaan 20 atau 30 orang,” kata Fletcher.
Beban itu bertambah karena Bournemouth musim tersebut terkena pengurangan 17 poin. Posisi klub di League Two berada di ambang degradasi ke Conference, kompetisi non-liga yang menurut Fletcher akan berujung fatal.
“Orang bilang kalau kami terdegradasi dari League Two, klub mungkin harus memulai lagi dari beberapa liga di bawah — kami akan masuk likuidasi dan itu akan jadi akhir AFC Bournemouth untuk masa depan yang bisa diperkirakan,” ujarnya.
Gol ke Gawang Grimsby dan Beban Usia 36 Tahun
Fletcher mengakui merasakan tekanan situasi itu lebih dalam dibanding rekan-rekannya yang lebih muda. Saat itu usianya 36 tahun, dan sebagian pemain muda di skuad disebutnya tidak sepenuhnya memahami besarnya taruhan.
Golnya ke gawang Grimsby Town pada 2009 menjadi penentu Bournemouth bertahan di Football League. Fletcher menyebut momen itu sebagai sesuatu yang ia tunggu selama 36 tahun.
“Masih sebuah kehormatan besar menjadi orang yang mencetak gol yang membuat kami terhindar dari degradasi — ketika kamu memikirkan Eropa, kalau saya tidak mencetak gol itu, semua ini tidak akan mungkin terjadi,” tuturnya.
“Tapi bisa saja pemain mana pun hari itu melawan Grimsby pada 2009 — seluruh tim bersatu setelah kami kena pengurangan 17 poin musim itu. Saat umpan silang datang, bisa jatuh ke siapa saja, atau saya bisa saja menendang voli ke baris Z seperti biasa, tapi kali itu saya menendangnya ke atap gawang.”
Dari Ambang Likuidasi ke Panggung Eropa
Fletcher menegaskan bahwa tanpa gol tersebut, perjalanan Bournemouth ke kompetisi Eropa tidak akan pernah terwujud. Klub yang nyaris hilang itu kini menjadi bagian dari peta sepak bola Inggris modern.
Wawancara Fletcher dilakukan bersama MrQ, mitra resmi lengan jersey AFC Bournemouth yang baru.