JAWA BARAT — "Menembus Horizon" mengupas sisi personal Ngurah Wijaya. Buku ini menelusuri jejak keluarganya lintas generasi, masa kecil, pendidikan di Prancis dan Swiss, hingga kiprahnya di industri perhotelan Eropa.
Di dalamnya juga tersimpan catatan sejarah Sanur, Segara Village Hotel, dan perkembangan pariwisata Bali yang dilihat dari kacamata pribadinya. Lebih dari biografi, buku ini bicara soal keluarga, keberanian, dan warisan antar generasi.
Sementara "World Solo Ride: Dari Bali, Membawa Merah Putih Menjelajah Dunia" menyorot sisi petualangnya. Buku kedua ini menampilkan sosok yang memilih terus bergerak meski usia tak lagi muda.
Mulai Bersepeda Motor di Usia 69 Tahun
Ngurah Wijaya pertama kali mengendarai motor untuk perjalanan jauh saat berumur 69 tahun. Mula-mula ia mengelilingi Indonesia. Begitu usia menyentuh 73 tahun, ia memperluas rute ke mancanegara.
Total 79 negara di berbagai benua ia sambangi dengan motor berpelat DK sambil membawa Bendera Merah Putih. Jarak yang ditempuh mencapai 190 ribu kilometer.
Perjalanan tunggal itu tidak selalu mulus. Ban pecah, kehabisan bahan bakar, dan gangguan di jalan menjadi makanan sehari-hari. Ayah tiga anak ini menyiapkan tiga jenis motor berbeda, disesuaikan dengan medan, jarak, dan musim.
Modal Utama: Motivasi, Keberanian, Persiapan
Menurut Ngurah Wijaya, kelancaran perjalanan bukan soal uang semata. Motivasi, keberanian, dan persiapan yang matang jadi kunci. Ia menyampaikan itu saat persiapan peluncuran, Kamis (10/9).
"Perjalanan dengan motor ini bisa lancar karena motivasi, keberanian dan persiapan yang baik. Itu modal utamanya. Memang perlu biaya (uang). Tapi apa manfaatnya uang banyak kalau tak digunakan dengan baik," ujarnya.
Dari Segara Village Hotel ke Bali Tourism Board
Ngurah Wijaya adalah generasi kedua di balik Segara Village Hotel, hotel keluarga yang tumbuh bersama pariwisata Sanur. Sepulang dari Eropa, ia melanjutkan usaha keluarga itu dan membenahinya jadi lebih profesional tanpa melepas akar budaya Bali.
Kiprahnya melebar ke promosi pariwisata. Ia aktif di Bali Tourism Board (BTB) yang berdiri 2000, bahkan menjabat Chairman. Posisinya sebagai Konsul Kehormatan Swedia dan Finlandia untuk Bali juga tercatat.
Saat Bom Bali I dan II mengguncang kepercayaan wisatawan, Ngurah Wijaya rajin berkomunikasi dengan media nasional dan internasional. Ia menyuarakan pesan bahwa Bali mampu bangkit. Kedekatannya dengan awak media membuatnya dijuluki "media darling" pariwisata Bali.
Gurun Namibia hingga Jalan Ekstrem Norwegia
Setelah pensiun, semangat eksplorasinya justru membara. Rute-rutenya meliputi gurun Namibia, jalan-jalan ekstrem di Norwegia, serta lintasan lintas negara dan benua.
Peluncuran dua buku ini menjadi penanda perjalanan panjang Ngurah Wijaya, baik sebagai pribadi, pelaku pariwisata, maupun petualang motor yang membawa nama Indonesia ke panggung dunia.