PANGANDARAN — Asisten Daerah III Sekretariat Daerah Kabupaten Pangandaran Aep Haris menyebut, mahasiswa akan berhadapan langsung dengan persoalan riil yang jarang ditemui di bangku kuliah. Ia menekankan bahwa kemampuan digital yang dimiliki generasi muda menjadi celah strategis untuk mengangkat produk lokal yang selama ini terkendala pemasaran.
Mengapa Digital Marketing Jadi Fokus Utama?
Menurut Aep, masih banyak pelaku UMKM di wilayah tersebut yang menghasilkan produk berkualitas tetapi belum optimal memanfaatkan platform digital. “Mahasiswa memiliki kemampuan yang mungkin belum dimiliki masyarakat, terutama dalam digital marketing, literasi digital, hingga promosi melalui media sosial. Ini menjadi peluang besar untuk membantu meningkatkan daya saing produk-produk unggulan desa,” ujarnya saat pelepasan di Lapangan Alun-Alun Pendopo Parigi, Selasa (28/7/2026).
KKN kali ini mengusung tema Konservasi dan Budaya. Selain mendampingi UMKM, mahasiswa juga diharapkan menghadirkan inovasi di sektor pertanian, perikanan, dan kelautan yang menjadi potensi utama Kabupaten Pangandaran.
Kampus Sesungguhnya di Tengah Masyarakat
Wakil Rektor II Universitas Galuh Dr. Hj. Jeti Rachmawati menambahkan, program ini bukan sekadar pengabdian, melainkan wadah pembelajaran dua arah. “Kami berharap mahasiswa tidak hanya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di kampus, tetapi juga belajar dari masyarakat. KKN menjadi wadah pembelajaran yang sangat penting untuk membentuk kompetensi, karakter, dan kepedulian sosial mahasiswa,” paparnya.
Ia menegaskan, keberhasilan KKN diukur dari dampak nyata yang dirasakan warga desa, bukan sekadar laporan administratif. “Kami berharap keberadaan mahasiswa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, baik melalui inovasi, pendampingan, maupun pemberdayaan ekonomi lokal,” pungkasnya.
18 Desa Sasaran, Dua Kecamatan Jadi Prioritas
Ratusan mahasiswa akan tersebar di 18 desa di Kecamatan Cimerak dan Cigugur. Kedua kecamatan ini dipilih karena memiliki potensi sumber daya alam yang besar namun masih memerlukan pendampingan dalam hal pemasaran dan pengelolaan usaha desa.
Pemkab Pangandaran berharap, setelah 40 hari pengabdian, lahir produk-produk UMKM yang lebih kompetitif dan desa-desa yang lebih mandiri secara ekonomi. Inovasi yang dihasilkan mahasiswa diharapkan bisa menjadi model pengembangan yang berkelanjutan, bukan hanya program musiman.