BEKASI — Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja memimpin pembahasan rencana pembangunan embung bersama Kementerian Pertanian, jajaran TNI, dan perangkat daerah terkait. Rapat berlangsung secara virtual dari Command Center Diskominfosantik Kabupaten Bekasi. Lokasi yang dipilih berada di lahan milik masyarakat, bukan di area persawahan.
Pemkab Bekasi telah melakukan pengecekan lokasi dan menyiapkan anggaran untuk mendukung pelaksanaan pembangunan. Lahan seluas 1,2 hektare di Kampung Pamoyangan itu nantinya akan menjadi aset Pemerintah Kabupaten Bekasi, dengan proses pembebasan lahan serta perizinan ditangani pemerintah daerah.
Mengapa Embung Dibangun di Lahan Warga, Bukan di Sawah
Asep menjelaskan, pemilihan lokasi mempertimbangkan kondisi lahan pertanian dan ketersediaan tempat di lapangan. Pemerintah memilih lahan masyarakat yang tidak berada di area persawahan untuk pembangunan tampungan air tersebut.
"Kita akan membuat embung seluas 1,2 hektare. Tempatnya di tempat masyarakat, bukan di sawah, karena kalau sawah kan pasti banyak, apalagi kita di LBS," katanya.
Persiapan di lapangan dilakukan bersama jajaran TNI. Asep menyebut anggaran pembangunan telah disiapkan pemerintah daerah.
"Kita sudah persiapkan dengan Pak Dandim di lapangan. Pemkab sudah menyiapkan anggarannya," jelasnya.
Dua Masalah Air yang Ingin Dijawab: Kekeringan dan Limpasan Hujan
Embung diarahkan menjawab dua persoalan sumber daya air yang dihadapi warga Cibarusah. Saat kemarau, petani kesulitan mendapatkan air. Ketika hujan deras turun, air berpotensi melimpas dan menimbulkan genangan.
"Yang kita hadapi adalah kekeringan dan kebanjiran," ungkap Asep.
Fungsi tampungan tidak berhenti sebagai cadangan air musim kemarau. Embung juga akan menahan air saat curah hujan tinggi sebelum dialirkan bertahap ke wilayah yang membutuhkan.
Saluran Kecil dan Target Panen Dua hingga Tiga Kali Setahun
Setelah embung berdiri, air akan didistribusikan menuju lahan pertanian melalui saluran-saluran kecil. Sistem itu diharapkan menjaga ketersediaan air bagi sawah sehingga petani punya kesempatan meningkatkan frekuensi tanam dan panen.
"Mungkin di buatnya embung nanti akan di buat saluran-saluran kecil yang nanti mengairi sawah. Akhirnya sawah bisa dua sampai tiga kali panen," tutur Asep Surya Atmaja.
Dari sisi pertanian, embung ditargetkan membantu kebutuhan pengairan hingga sekitar 1.500 hektare lahan di Cibarusah. Kawasan atas menjadi perhatian karena selama ini menghadapi keterbatasan sumber air dan sebagian hanya mampu panen satu kali dalam setahun.
Lima Punggung dan Dukungan Warga Terdampak Kekeringan
Dandim 0509 Kabupaten Bekasi Letkol Arm. Vicky Harryanto Mamonto menyatakan, lokasi pembangunan telah disurvei bersama sejumlah pemangku kepentingan. Titik yang dipilih berada di Kampung Pamoyangan dengan luas lahan sekitar 1,2 hektare.
Dalam rencana teknisnya, embung akan mendukung lima punggung dengan sistem pengairan yang terhubung ke kawasan persawahan. Tiga di antaranya bagian dari grand design Irpom, sedangkan damparit yang masuk ke dalam punggung memiliki potensi pengairan untuk lahan pertanian.
"Rencananya untuk lima punggung. Tiga grand design dari Irpom, kemudian damparit yang masuk punggung, memiliki potensi pengairan total kurang lebih 1.500 hektare untuk pesawahan," kata Vicky.
Menurut Vicky, masyarakat memberikan dukungan terhadap rencana pembangunan embung. Dukungan muncul setelah warga merasakan langsung dampak kekeringan yang berpengaruh terhadap kondisi pertanian dan berpotensi menyebabkan gagal panen.
Selain mendukung pengairan sawah, embung berfungsi sebagai konservasi air. Ketika musim hujan, tampungan seluas 1,2 hektare itu diharapkan menahan sebagian air sehingga limpasan yang berpotensi menimbulkan genangan dapat dikendalikan.