JAWA BARAT — Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam sebuah acara di Jakarta, pekan lalu. Menurutnya, keputusan mengadopsi kendaraan taktis buatan dalam negeri bukan sekadar soal efisiensi anggaran jangka pendek, melainkan keberpihakan terhadap kemampuan industri pertahanan lokal.
Harga Lebih Mahal, Tapi untuk Kemandirian Industri
Prabowo mengakui bahwa harga jip Maung lebih tinggi dari produk impor dengan spesifikasi setara. Namun, ia menekankan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan untuk Maung kembali ke dalam negeri dalam bentuk transfer teknologi, lapangan kerja, dan penguasaan rantai pasok.
"Ini investasi. Kalau kita terus beli dari luar, kita tidak akan pernah punya industri otomotif sendiri," ujarnya dalam sambutan yang direkam dan beredar di kanal YouTube resmi.
Maung: Kendaraan Taktis Andalan TNI Buatan Pindad
Jip Maung dikembangkan oleh PT Pindad sebagai kendaraan taktis ringan 4x4. Kendaraan ini dirancang untuk mobilitas tinggi di medan berat, dengan dimensi yang lebih kompak dibandingkan kendaraan taktis lainnya.
Beberapa varian Maung telah digunakan oleh satuan TNI AD, TNI AL, dan TNI AU untuk berbagai keperluan, mulai dari patroli, kawal, hingga kendaraan komandan lapangan.
Bukan Sekadar Harga, Tapi Dampak Ekonomi Berantai
Dalam paparannya, Prabowo membandingkan dampak ekonomi antara membeli kendaraan impor dengan membeli Maung. Jika membeli dari luar negeri, uang negara mengalir ke pabrikan asing. Sebaliknya, pembelian Maung menggerakkan ribuan tenaga kerja di pabrik Pindad dan industri komponen lokal.
"Memang di kertas lebih mahal. Tapi hitung multiplier effect-nya. Berapa orang yang kerja, berapa pajak yang masuk, berapa teknisi yang terlatih," tegasnya.
Kebijakan Prioritas Produk Dalam Negeri
Pernyataan Prabowo ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan produk dalam negeri (PDN) dalam pengadaan barang dan jasa, khususnya di sektor pertahanan. Kementerian Pertahanan di bawah Prabowo secara konsisten memesan alutsista buatan Pindad, termasuk Maung dan panser Anoa.
Langkah ini menuai beragam reaksi. Sebagian pihak mengapresiasi komitmen terhadap industri lokal, sementara yang lain mempertanyakan efisiensi anggaran di tengah kebutuhan modernisasi alutsista yang mendesak.
Terlepas dari pro-kontra, Prabowo memastikan TNI akan terus menggunakan Maung sebagai kendaraan taktis utama. "Bangga. Ini buatan anak bangsa. Harus kita rawat dan kita besarkan," pungkasnya.