JAWA BARAT — Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) melaporkan perkembangan uji jalan biodiesel B50 di sektor otomotif. Campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis kelapa sawit dengan 50 persen solar ini diuji pada kendaraan operasional harian sejak Desember 2025.
Hasil Uji Jalan 40.000 Kilometer untuk Kendaraan Berat
Kendaraan diesel kategori di atas 3,5 ton telah menyelesaikan target jarak tempuh 40.000 km. Seluruh unit menunjukkan kondisi mesin dan filter bahan bakar dalam kategori baik.
Untuk kategori di bawah 3,5 ton, jarak tempuh saat ini mencapai 40.000 km dari target 50.000 km. "Pada Mei nanti semua (kendaraan) sektor otomotif untuk di bawah 3,5 ton mencapai target 50 ribu km. Setelah selesai 50 ribu km, nanti ada pengecekan semua engine," ujar Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi.
Kualitas Bahan Bakar B50 Lebih Ketat dari B40
Hasil pengujian menunjukkan spesifikasi B100 yang digunakan untuk campuran B50 telah memenuhi standar yang dipersyaratkan. Tiga parameter utama mengalami perbaikan dibandingkan B40:
- Kadar air: maksimum 300 ppm (B40: 320 ppm)
- Monogliserida: maksimum 0,47% massa (B40: 0,5% massa)
- Kestabilan oksidasi: minimal 900 menit (B40: minimal 720 menit)
Perbaikan ini merupakan rekomendasi Komite Teknis Bioenergi cair untuk memastikan ketahanan bahan bakar pada mesin diesel modern.
Target Ekonomi dan Lingkungan di Balik B50
Pemerintah merancang kebijakan ini bukan sekadar substitusi energi. Implementasi B50 diproyeksi menciptakan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional sebesar Rp24,68 triliun.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, program ini diperkirakan melibatkan lebih dari 2,2 juta orang di sepanjang rantai pasok industri sawit dan energi. Sektor lingkungan mencatat potensi penurunan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton setara karbon dioksida (CO2).
Potensi Hemat Devisa Rp157 Triliun
Aspek makroekonomi menjadi salah satu pendorong utama percepatan B50. Berkurangnya kebutuhan impor bahan bakar fosil diperkirakan menghasilkan penghematan devisa hingga Rp157,28 triliun.
Jika implementasi berjalan optimal, pemerintah bahkan optimistis dapat menghilangkan impor untuk jenis solar tertentu. Uji jalan di sektor lain seperti angkutan laut, alat pertanian, alat berat tambang, kereta api, dan pembangkit masih berlangsung secara paralel.