JAKARTA — Keputusan pergantian pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) langsung diteken Presiden. Nanik S. Deyang kini resmi memegang kendali lembaga yang bertanggung jawab atas kebijakan pemenuhan gizi masyarakat Indonesia.
Nanik menggantikan Dadan Hindayana, yang sebelumnya memimpin BGN sejak lembaga itu dibentuk. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak istana mengenai alasan spesifik di balik pergantian tersebut. Namun, rotasi pejabat di tingkat kementerian dan lembaga kerap dilakukan untuk menyegarkan arah kebijakan.
Pengalaman Nanik S. Deyang di Sektor Pangan dan Gizi
Nama Nanik S. Deyang bukan wajah baru di birokrasi pangan nasional. Sebelumnya, ia tercatat memiliki pengalaman panjang di sektor ketahanan pangan dan gizi, baik di tingkat pusat maupun daerah. Latar belakang ini dinilai relevan untuk mengawal program prioritas nasional yang menyasar ibu hamil, balita, dan anak sekolah.
BGN sendiri merupakan lembaga non-kementerian yang dibentuk untuk mengoordinasikan dan mengeksekusi program gizi secara lintas sektor. Tugasnya mencakup pengawasan distribusi makanan bergizi, intervensi stunting, hingga kerja sama dengan pemerintah daerah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Apa Target BGN ke Depan?
Dengan pimpinan baru, publik menanti arah kebijakan BGN ke depan. Salah satu pekerjaan rumah besar lembaga ini adalah menekan angka prevalensi stunting yang masih menjadi masalah di sejumlah provinsi, termasuk Jawa Barat. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru menunjukkan angka stunting nasional masih di atas target yang ditetapkan pemerintah.
Nanik diharapkan mampu mempercepat realisasi program makan siang bergizi gratis yang sempat digulirkan sebagai proyek percontohan di beberapa daerah. Program ini membutuhkan koordinasi ketat antara BGN, Kemendagri, dan Kementerian Kesehatan agar tepat sasaran.
Bagaimana Dampak Pergantian Ini bagi Program Gizi Daerah?
Pemerintah daerah, khususnya di Jawa Barat, biasanya menunggu arahan teknis dari pimpinan BGN yang baru. Sebab, beberapa program intervensi gizi berbasis komunitas—seperti pemberian makanan tambahan di posyandu dan sekolah—memerlukan regulasi turunan dari pusat.
Jika tidak ada perubahan signifikan, program yang sudah berjalan di lapangan kemungkinan tetap dilanjutkan. Namun, efisiensi anggaran dan penajaman sasaran bisa menjadi prioritas di era kepemimpinan Nanik S. Deyang.
Kapan Efektif Bertugas?
Proses serah terima jabatan diperkirakan berlangsung dalam waktu dekat. Biasanya, masa transisi kepemimpinan di lembaga setingkat BGN memakan waktu satu hingga dua pekan untuk memastikan program yang berjalan tidak terhenti.