JAWA BARAT — Kepastian harga itu bisa dicek masyarakat melalui laman resmi MyPertamina. Pertamina terakhir mengumumkan perubahan harga pada 4 Mei 2026, yang hanya menyentuh produk nonsubsidi seperti solar dan Pertamax Turbo. Artinya, selama tiga pekan terakhir hingga hari ini, tidak ada lagi gejolak harga di SPBU.
Kondisi ini tak lepas dari dinamika perang dagang dan konflik Timur Tengah. Sejak Februari 2026, ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran sempat membuat Iran menutup Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak ke Indonesia. Meski kini situasi mereda, dampaknya terhadap harga minyak global masih terasa.
Harga Pertalite dan Pertamax di Berbagai Wilayah
Di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, harga Pertamax tercatat paling rendah dibanding daerah lain, yakni Rp 12.300 per liter. Sementara Pertalite seragam Rp 10.000 per liter di seluruh Indonesia. Untuk produk premium, Pertamax Turbo di Jakarta dijual Rp 19.900 per liter, sedangkan di Sumatera Barat dan Riau harganya Rp 20.750 per liter.
Pertamina Dex di Jakarta dibanderol Rp 27.900 per liter, lebih murah ketimbang di Sumatera Barat yang mencapai Rp 29.100 per liter. Biosolar subsidi tetap Rp 6.800 per liter di semua provinsi. Harga di FTZ Sabang tercatat lebih rendah untuk beberapa produk, misalnya Pertamax Rp 11.550 per liter dan Dexlite Rp 24.400 per liter.
Dampak ke Kantong Pengendara
Bagi pengguna motor dan mobil pribadi, harga Pertalite yang stagnan di Rp 10.000 per liter memberikan kepastian belanja bulanan. Namun, pengemudi yang biasa mengisi Pertamax Turbo atau Dexlite harus merogoh kocek lebih dalam di luar Jawa. Misalnya, pengendara di Riau yang menggunakan Pertamina Dex harus membayar Rp 29.100 per liter, lebih mahal Rp 1.200 dibandingkan harga di Jakarta.
Perbedaan harga antarwilayah ini dipengaruhi biaya distribusi dan logistik. Pertamina memastikan pasokan tetap aman meski ada tekanan dari fluktuasi harga minyak dunia.
Prospek Harga ke Depan
Pertamina belum memberikan sinyal akan menaikkan harga BBM dalam waktu dekat. Namun, analis energi mengingatkan bahwa jika konflik di Timur Tengah kembali memanas, pemerintah bisa saja menyesuaikan harga nonsubsidi. Untuk saat ini, masyarakat bisa bernapas lega—setidaknya sampai pengumuman resmi berikutnya dari Pertamina.