Pencarian

Beban Neymar Tak Pernah Reda: dari Messi ke Ancelotti, Brasil Masih Cari Mesias Baru

Minggu, 24 Mei 2026 • 03:53:01 WIB
Beban Neymar Tak Pernah Reda: dari Messi ke Ancelotti, Brasil Masih Cari Mesias Baru
Neymar kembali dipanggil Ancelotti untuk skuad Brasil di Piala Dunia pada usia 34 tahun.

JAWA BARAT — Neymar berusia 34 tahun saat Ancelotti mengumumkan skuad terbaru Brasil untuk Piala Dunia mendatang. Usia yang sama ketika Messi mengantar Argentina juara di Qatar. Tapi Jonathan Wilson, dalam analisisnya di The Guardian, menulis bahwa kesamaan itu hanya kulit luar. Di dalamnya, kisah Neymar adalah kisah tentang seorang pemain yang sejak usia 18 tahun dipaksa menjadi Messi-nya Brasil—dan hingga kini belum pernah benar-benar lepas dari beban itu.

Debut 2010: Saat Brasil Butuh "Messi Sendiri"

Neymar menjalani debut internasionalnya pada 2010, bagian dari regenerasi skuad Brasil pasca-kekecewaan Piala Dunia Afrika Selatan. Saat itu Messi sudah berusia 23 tahun dan bersinar. Publik Brasil, menurut Wilson, langsung menuntut padanan: seorang pemain yang bisa menjadi pusat segalanya, seperti Messi bagi Argentina.

Ekspektasi itu menciptakan budaya ketergantungan yang, alih-alih membebaskan Neymar, justru mengurungnya. "Neymar adalah pemain yang menyenangkan sebagian orang dan membuat frustrasi sebagian lain," tulis Wilson. "Sebuah wadah tempat faksi-faksi yang bersaing menuangkan narasi mereka sendiri. Sang individu mudah hilang di dalamnya."

2014: Tulang Punggung Patah, Mental Bangsa Runtuh

Puncak pertama dari tekanan itu terjadi di Piala Dunia 2014. Brasil menang atas Kolombia di perempat final, tapi Neymar harus keluar dengan cedera—tulang belakang retak setelah menerima lutut dari Juan Camilo Zúñiga. Tudingan mengarah ke pemain Kolombia itu. Media sosial menghujat. Federasi Brasil mengutuk.

Keesokan paginya di Rio de Janeiro, suasana kota hening seperti setelah bencana nasional. "Tanpa mesias, apa yang akan terjadi pada umat pilihan?" tulis Wilson merujuk pada histeria yang menyelimuti Brasil. David Luiz mengibarkan jersey Neymar saat lagu kebangsaan. Semifinal melawan Jerman berakhir 7-1. Sebuah kekalahan yang, bagi Wilson, lahir dari kegilaan kolektif yang membangun Neymar menjadi pemain yang sebenarnya bukan dirinya.

2018: Sendirian di Bawah Lampu Kazan

Empat tahun kemudian, Brasil kembali tersingkir di perempat final, kali oleh Belgia. Neymar berdiri sendirian di samping bus tim di parkir stadion Kazan, membungkuk di bawah beban harapan. Usianya baru 26, tapi Wilson merasa "kesempatan terbaiknya untuk memenangkan Piala Dunia telah berlalu."

Ironisnya, kekalahan itu sebagian disebabkan oleh Neymar sendiri. Pelatih Belgia, Roberto Martínez, memindahkan Romelu Lukaku ke sisi kanan untuk mengeksploitasi sisi kiri Brasil yang rapuh. Akomodasi terhadap Neymar menuntut kompensasi taktis di lini tengah yang tak pernah terpenuhi. "Tidak ada Rodrigo De Paul-nya Brasil," tulis Wilson, merujuk pada gelandang yang menjadi pelindung Messi di Argentina.

Dari Rosales ke Zúñiga: Siklus Kekerasan dan Pura-pura

Masalah itu, menurut Wilson, sudah terlihat sejak Copa América 2011. Setelah membawa Santos juara Copa Libertadores, Neymar tiba di Argentina dengan hype besar. Lalu ia bertemu Roberto Rosales, bek Venezuela yang keras. Dua pertemuan dengan Darío Verón dari Paraguay menyusul. Brasil tersingkir di perempat final. Pesannya cepat menyebar: Neymar tidak suka saat lawan mengimbanginya.

Para bek mulai menendangnya. Neymar mulai mengantisipasi kontak, membesar-besarkan, berpura-pura. Sepanjang 2010-an, duel antara perundungan terhadap Neymar dan penghindaran pre-emptifnya menjadi perlombaan senjata paling menjengkelkan di sepak bola. "Beberapa bek sepertinya menyimpulkan: lebih baik hantam saja, karena dia akan jatuh berteriak pula," tulis Wilson.

Di Copa América 2015, Kolombia memprovokasi Neymar hingga ia diusir karena sundulan ke belakang. Hukuman empat pertandingan menyusul. Tapi siklus itu tak pernah benar-benar berakhir—dan kini, di usia 34, Ancelotti memanggilnya lagi. Sebuah taruhan, kata Wilson, yang menunjukkan bahwa Brasil masih putus asa mencari Messi-nya sendiri.

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks