132 Karhutla Landa 153 Desa di Jawa Barat, Gubernur Minta Pendakian Gunung Cianjur dan Bogor Ditutup Sementara

Penulis: Taufik Rahman  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 19:16:01 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta penutupan sementara pendakian gunung di Cianjur dan Bogor untuk mengantisipasi karhutla.

BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta pemerintah kabupaten/kota yang memiliki kawasan gunung, khususnya Cianjur dan Bogor, menerbitkan kebijakan penundaan aktivitas pendakian. Imbauan ini menyusul meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan yang dipicu ulah manusia serta diperparah fenomena El Nino.

"Bupati Cianjur dan Bupati Bogor, serta daerah-daerah yang gunungnya digunakan untuk kegiatan panjat gunung, sebaiknya ditunda dulu sementara," ujar Dedi Mulyadi di Bandung, Sabtu (29/8/2026).

Pemicu Karhutla: Puntung Rokok dan Cuaca Panas Ekstrem

Dedi menilai aktivitas pendaki kerap membawa risiko besar. Banyak pendaki membawa rokok dan menyalakan api di area terbuka, yang dengan mudah memicu kebakaran saat kondisi cuaca panas dan kering seperti sekarang.

"Karena banyak orang yang manjat gunung itu bawa rokok dan bakar. Nah, sementara lah. Karena bikin bakar aja gak terkendali jadi kebakaran. Sementara ini menurut saya tunda dulu, karena tidak semua orang disiplin," tuturnya.

Selain pendakian, Dedi juga menyoroti kerawanan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Ia meminta para bupati segera menerapkan mitigasi, termasuk melarang orang membawa korek api dan rokok ke area TPA.

Sumedang Catat Insiden Terbanyak, Sukabumi Alami Kerusakan Terluas

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat sebaran karhutla tidak merata. Kabupaten Sumedang menjadi wilayah dengan frekuensi kejadian tertinggi, sementara kerusakan lahan terparah terjadi di selatan Jawa Barat.

Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, merinci Kabupaten Sumedang mencatat 20 kejadian yang membakar 21,68 hektare lahan di sebelas kecamatan dan 21 desa. Adapun dampak kerusakan terluas terjadi di Kabupaten Sukabumi dengan 12 kejadian yang menghanguskan 49,20 hektare lahan di sebelas kecamatan dan 15 desa.

Daerah Rawan Lain: Majalengka hingga Bandung

Sejumlah kabupaten lain juga mencatatkan kerusakan signifikan. Kabupaten Majalengka membukukan 15 kejadian dengan luas area terbakar 25,91 hektare, disusul Kabupaten Kuningan sebanyak 10 kejadian seluas 23,80 hektare, serta Kabupaten Cirebon dengan delapan kejadian seluas 20,73 hektare.

Kabupaten Bandung mencatat 13 kejadian seluas 16,80 hektare, Kabupaten Subang sebelas kejadian seluas 9,53 hektare, dan Kabupaten Purwakarta sepuluh kejadian seluas 8,22 hektare. Pergerakan api juga merembet ke kawasan perkotaan seperti Kota Sukabumi, Kota Bandung, dan Kota Depok meski dalam skala lebih kecil.

Patroli dan Edukasi Diintensifkan di Puncak Kemarau

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Dodit Ardian Pancapana, menyebut jajarannya memperkuat langkah pencegahan di masa puncak kemarau. Upaya yang dilakukan meliputi patroli berkala di wilayah rawan, pemantauan tutupan hutan, sosialisasi edukatif, serta koordinasi lintas sektor.

"Kami bersama berbagai pihak terus mengintensifkan patroli berkala di wilayah rawan, memantau kondisi tutupan hutan, menggalakkan sosialisasi edukatif, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi meminimalkan risiko karhutla," ujar Dodit, Rabu (12/8/2026).

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: jabar.idntimes.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top