GARUT — Kawasan Bale Dewa Niskala di Jalan A. Yani menjadi titik pusat berkumpulnya massa yang ingin menyaksikan peringatan sejarah berdirinya Tanah Sunda. Acara ini mengedepankan narasi sejarah Kerajaan Sunda dan keberadaan Mahkota Binokasih sebagai simbol pemersatu tatar pasundan.
Kemeriahan sudah terasa sejak pukul 18.00 WIB ketika masyarakat mulai menyemut di sepanjang Jalan Bratayuda hingga Jalan A. Yani. Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya yang mengambil titik start dari KOREM 062 Tarumanagara. Perhelatan ini semakin megah dengan dukungan seni budaya dari 27 kabupaten dan kota, serta kehadiran komedian Ohang yang menghangatkan suasana.
Di balik kemegahan panggung dan atraksi seni, faktor keselamatan penonton menjadi sorotan tajam. Banyaknya warga yang hadir membuat kondisi di lapangan sangat padat dan memaksa pengunjung harus berdesakan untuk mendapatkan pandangan ke arah panggung utama.
"Sayang sekali acara semegah ini masyarakat tidak semua bisa menyaksikan. Tolong dipikirkan juga sisi keamanan, lihat penonton berdesakan apalagi ada anak-anak, apakah ini tidak mengundang kecelakaan?" tegas AS (45), salah satu penonton asal Karangpawitan.
Ia menekankan bahwa panitia seharusnya belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya agar faktor keselamatan tidak terabaikan demi mengejar kemeriahan semata. Kekhawatiran ini muncul seiring dengan banyaknya balita yang terjebak di tengah kerumunan massa yang terus merangsek maju.
Selain masalah keamanan, tata letak panggung di depan eks Bakorwil Garut dianggap kurang strategis untuk menampung ribuan orang. Warga menyarankan agar pemerintah daerah mengevaluasi lokasi pelaksanaan untuk agenda serupa di masa mendatang agar lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Kenapa letak panggungnya tidak di Alun-alun dengan posisi menghadap ke jalan, jadi penonton bisa menyaksikan semuanya," lanjut AS memberikan masukan terkait teknis penyelenggaraan.
Senada dengan hal tersebut, AN (31), penonton asal Sudirman, menyoroti keterbatasan jarak pandang bagi warga yang berada di barisan belakang. Menurutnya, panitia semestinya menyediakan fasilitas pendukung teknologi untuk memecah konsentrasi massa di satu titik.
"Sebaiknya ditambahkan dua layar TV besar agar yang tidak bisa melihat ke depan bisa menyaksikan pagelaran ini. Penonton pun tidak akan berdesakan seperti sekarang ini," ujar AN.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Garut dapat lebih matang dalam melakukan perencanaan acara skala besar. Aspek kenyamanan, keamanan, dan aksesibilitas pandangan bagi seluruh warga diharapkan menjadi prioritas utama dalam perhelatan budaya selanjutnya di Kota Intan.