Jawa Barat Resmikan Hari Tatar Sunda 18 Mei Guna Dongkrak Wisata

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 01 Mei 2026 | 04:00:11 WIB
Pemerintah Jawa Barat resmi tetapkan Hari Tatar Sunda setiap 18 Mei sebagai upaya dorong sektor wisata dan ekonomi kreatif.

BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menetapkan peringatan Hari Tatar Sunda setiap 18 Mei melalui Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026. Langkah strategis ini diambil untuk mengintegrasikan pelestarian nilai-nilai tradisi dengan penguatan sektor ekonomi kreatif di seluruh wilayah Tanah Pasundan.

Peringatan perdana ini dijadwalkan berlangsung meriah dengan rangkaian acara panjang yang dimulai sejak 2 Mei hingga puncaknya pada 18 Mei 2026. Agenda besar tersebut mencakup kirab budaya, napak tilas sejarah, hingga karnaval kolosal yang melibatkan perwakilan dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Iendra Sofyan, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Pemerintah merancang momentum ini sebagai mesin penggerak ekonomi yang berbasis pada kearifan lokal masyarakat Sunda.

“Momentum ini menjadi ruang kolaborasi masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif, terutama bagi pelaku seni, pengrajin, hingga pelaku UMKM,” kata Iendra, Jumat (1/5/2026).

Agenda Budaya Melibatkan 27 Kabupaten dan Kota di Jawa Barat

Rangkaian peringatan Hari Tatar Sunda diprediksi menciptakan efek berganda bagi ekonomi daerah. Kegiatan kirab dan karnaval budaya membuka peluang pasar bagi industri kreatif, mulai dari sanggar seni, perajin ornamen tradisional, desainer busana adat, hingga pengusaha kuliner khas daerah.

Keterlibatan puluhan kelompok kesenian tradisional seperti Reak dan Sasapian Buhun menjadi panggung promosi nyata. Selama rangkaian acara, permintaan terhadap kostum, properti pertunjukan, hingga jasa dekorasi budaya dilaporkan meningkat signifikan, memberikan napas baru bagi para seniman lokal.

Sektor pariwisata juga mendapatkan dampak positif secara langsung. Aktivitas napak tilas yang melintasi delapan titik sejarah dari Sumedang hingga Cirebon diperkirakan mampu menarik ribuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Hal ini berdampak pada kenaikan angka okupansi hotel, jasa transportasi, dan konsumsi masyarakat di sepanjang jalur kegiatan.

Dampak Ekonomi dari Kirab Mahkota Binokasih dan Heritage

Salah satu daya tarik utama yang dinantikan publik adalah prosesi kirab Mahkota Binokasih. Artefak dengan nilai sejarah tinggi ini akan dikawal ketat selama perjalanan, menjadikannya magnet wisata heritage yang kuat bagi para pencinta sejarah dan kolektor budaya.

Puncak acara yang dijadwalkan pada 17 Mei 2026 di Gedung Sate, Bandung, akan menampilkan pertunjukan kolosal bersama seniman Sujiwo Tedjo. Kehadiran tokoh nasional ini diharapkan mampu memperluas eksposur Jawa Barat sebagai pusat kebudayaan Sunda di level nasional.

Iendra menjelaskan terdapat tiga dampak utama yang disasar, yakni penguatan akar budaya, peningkatan interaksi sosial antarwarga, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dalam pandangannya, kegiatan ini menciptakan ekosistem yang mempertemukan pelaku seni dengan pasar secara langsung.

“Ekonomi kreatif itu tumbuh dari aktivitas seperti ini. Ada produksi, distribusi, dan konsumsi yang terjadi secara langsung di masyarakat,” katanya.

Komitmen Ekonomi Hijau dan Transformasi Menjadi Perda

Penyelenggaraan Hari Tatar Sunda juga mengusung konsep ramah lingkungan yang unik. Panitia menerapkan zona tanpa kendaraan bermotor dan penggunaan energi bersih di area utama acara. Pendekatan ini membuka ruang bagi inovasi ekonomi hijau dalam industri penyelenggaraan acara (event) dan pariwisata masa depan.

Melihat potensi besarnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana mendorong regulasi ini naik status dari Peraturan Gubernur menjadi Peraturan Daerah (Perda). Penguatan payung hukum tersebut bertujuan agar Hari Tatar Sunda memiliki landasan legalitas yang lebih kuat dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Jika dikelola secara konsisten, agenda tahunan ini berpotensi masuk ke dalam kalender wisata nasional. Jawa Barat kini bersiap memosisikan diri sebagai episentrum ekonomi kreatif berbasis budaya, di mana tradisi tidak hanya dirawat sebagai memori, tetapi diolah menjadi sumber kesejahteraan masyarakat yang nyata.

Reporter: Redaksi
Back to top