PURWAKARTA — Inspeksi mendadak Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, yang akrab disapa Om Zein, di kawasan Ranca Darah, Kecamatan Pondok Salam, berujung pada teguran keras terhadap jajaran pelaksana pembangunan. Pasalnya, bagian pondasi yang menjadi dasar monumen, batas pagar, dan calon trotoar dinilai tidak sesuai dengan kondisi existing jalan di sekitarnya.
Selisih ketinggian yang terpaut beberapa sentimeter di bawah permukaan jalan hotmix itu memicu kemarahan Om Zein. Ia menilai persoalan tersebut bukan persoalan teknis sepele, melainkan cermin kegagalan dalam membaca kondisi lapangan sejak tahap perencanaan.
"Berarti Pikiran Bapak Tidak Sampai"
Kemarahan Om Zein terekam jelas saat ia meninjau langsung titik-titik pembangunan yang dianggap bermasalah. Ia mempertanyakan logika perencanaan yang menghasilkan pondasi lebih rendah dari jalan yang sudah terbangun.
"Berarti pikiran Bapak tidak sampai kalau begitu. Ini bukan masalah sempit, existing bata ini lebih rendah daripada jalan hotmix. Kalau dipasang trotoar, jatuhnya di mana. Perencanaan seperti ini tidak benar," ujar Om Zein dalam peninjauannya.
Teguran itu disampaikan lantaran ia menilai gambar teknis yang benar tidak akan berarti apa-apa apabila penerapan di lapangan tidak sesuai perhitungan. Kekeliruan pada ketinggian pondasi, menurutnya, berpotensi menjadi persoalan besar ketika pekerjaan telah berjalan lanjut.
Risiko di Masa Depan Saat Jalan Naik Kelas
Persoalan elevasi ini tidak berhenti pada kondisi hari ini. Jalan hotmix yang kini menjadi patokan masih berpeluang mengalami pemeliharaan atau pelapisan ulang aspal di kemudian hari. Ketika permukaan jalan kembali naik, bangunan yang sejak awal dibuat terlalu rendah akan semakin tenggelam dan kehilangan kesesuaian dengan lingkungannya.
Kondisi itu menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak bisa dilepaskan dari elemen-elemen yang sudah lebih dulu ada. Jalan, saluran drainase, kontur tanah, hingga aktivitas masyarakat merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan harus masuk dalam pertimbangan perencana.
Om Zein: Gambar Benar, Eksekusi yang Keliru
Om Zein menegaskan bahwa kesalahan teknis di lapangan ini merupakan pekerjaan rumah bagi seluruh mata rantai pembangunan, bukan hanya kontraktor pelaksana.
"Gambarnya sudah benar, tapi ketinggian pondasinya yang tidak benar. Harusnya berpikir, masa harus saya bongkar semua," tegasnya.
Ia menginstruksikan agar pembangunan infrastruktur di Purwakarta selalu berpijak pada pemahaman kebutuhan dan karakter wilayah. Kondisi existing wajib menjadi dasar utama, sementara aspek bentang geografis, bentang wilayah, hingga bentang budaya kawasan turut dipertimbangkan sebelum pekerjaan dimulai.
Pelajaran dari Ranca Darah untuk Perencanaan Wilayah
Ranca Darah, dalam kasus ini, memberikan gambaran nyata bagaimana sebuah kesalahan kecil pada elevasi dapat membuka persoalan yang lebih besar. Ketika kesalahan baru ditemukan di tengah proses pembangunan, konsekuensinya bukan sekadar perbaikan sesaat.
Pekerjaan harus diulang, material berpotensi terbuang, waktu kembali tersita, dan anggaran daerah ikut terserap untuk menutup celah yang seharusnya bisa dicegah sejak awal. Kejadian ini menegaskan bahwa pembangunan yang baik dimulai dari pemahaman mendalam atas tempat yang akan dibangun, bukan hanya dari gambar besar yang direncanakan di atas meja. Bupati tidak ingin proyek di Purwakarta berhenti pada target fisik yang tuntas, tetapi harus memiliki fungsi yang jelas dan menyatu dengan kebutuhan warga.