KABUPATEN BOGOR — Pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan rumah sakit memang terus digenjot di Kabupaten Bogor. Namun, Pemerhati Pendidikan Saiful Falah mengingatkan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) adalah penentu utama wajah daerah di masa depan, bukan sekadar beton dan aspal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 2024 baru berada di angka 73,63. Capaian ini dinilai masih menyisakan pekerjaan rumah besar di sektor pendidikan, terutama dalam hal akses dan keberagaman jenjang perguruan tinggi.
Ketimpangan di Bogor Barat: Jarak Kampus Menjauhkan Cita-Cita
Persoalan ini terasa lebih akut di kawasan Bogor Barat. Wilayah yang membentang dari Dramaga, Ciampea, Cibungbulang, hingga Parungpanjang ini memiliki banyak pemuda yang ingin melanjutkan studi, namun pilihan program studi di dekat rumah masih terbatas.
Akibatnya, pelajar harus menempuh perjalanan jauh ke Kota Bogor, Depok, atau Jakarta untuk menemukan jurusan yang sesuai. Biaya transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup selama di perantauan kerap menjadi tembok pemisah antara cita-cita dan realita bagi keluarga dengan ekonomi terbatas.
Pesantren Menjaga Moral, tapi Daerah Butuh Tenaga Kesehatan dan Ahli Digital
Kehadiran perguruan tinggi yang tumbuh dari pesantren di Bogor Barat patut disyukuri karena telah melahirkan guru agama, penyuluh, dan pengelola pesantren. Namun, homogenitas kelulusan dinilai tidak cukup untuk menyelesaikan masalah masyarakat yang kian kompleks.
Puskesmas membutuhkan tenaga kesehatan dan administrator pelayanan. Pemerintahan desa membutuhkan ahli administrasi publik dan pengolahan data. Pelaku usaha mikro membutuhkan pendamping pemasaran digital, sementara industri berkembang membutuhkan lulusan sains dan informatika.
“Ilmu agama dan ilmu umum tidak perlu dipertentangkan. Keduanya harus dipertemukan untuk membangun masyarakat yang maju sekaligus memiliki nilai,” tulis Saiful Falah dalam analisisnya, Kamis (19/6/2025).
TPT 7,69 Persen: Lulusan Harus Mampu Ciptakan Lapangan Kerja
Urgensi diversifikasi sarjana ini diperkuat data ketenagakerjaan. BPS Kabupaten Bogor mencatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2025 mencapai 2,84 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di angka 7,69 persen.
Wilayah Bogor Barat yang luas dengan permukiman tersebar juga membutuhkan tenaga kesehatan yang mengenal budaya dan bahasa setempat. Cara paling masuk akal untuk memenuhi kebutuhan itu adalah mendidik putra-putri daerah sedekat mungkin dengan lingkungan tempat mereka tumbuh.
Transformasi digital bukan lagi monopoli perusahaan besar di Jakarta. Pemerintahan desa, sekolah, pesantren, koperasi, hingga kelompok tani di Kabupaten Bogor membutuhkan SDM yang mampu membangun aplikasi dan sistem informasi untuk mendukung pelayanan publik yang efisien.