KARAWANG — Kebutuhan air bersih warga Karawang kian mendesak di tengah puncak musim kemarau. BPBD Kabupaten Karawang mengidentifikasi Kecamatan Tegalwaru sebagai wilayah dengan dampak kekeringan paling parah pada periode kali ini.
Di kecamatan tersebut, bencana kekeringan terfokus pada dua desa, yakni Desa Kutalanggeng dan Desa Cintalanggeng. Jumlah warga terdampak di dua lokasi itu mencapai 1.386 kepala keluarga atau setara 3.876 jiwa.
Empat Kecamatan Terdampak Kekeringan
Berdasarkan pendataan BPBD Karawang, penyebaran krisis air bersih tidak hanya terjadi di Tegalwaru. Tiga kecamatan lain ikut merasakan dampak kemarau panjang tahun ini:
- Kecamatan Ciampel
- Kecamatan Pangkalan
- Kecamatan Telukjambe Barat
Total keseluruhan warga yang terancam kekurangan air bersih di sembilan desa tersebut mencapai 12.155 jiwa. Angka ini menunjukkan skala darurat yang membutuhkan penanganan cepat dari pemerintah daerah.
Ribuan Warga Menunggu Bantuan Air Bersih
Dengan jumlah 4.044 kepala keluarga yang terdampak, kebutuhan air bersih harian diperkirakan meningkat signifikan. Masyarakat di lokasi terdampak biasanya mengandalkan pasokan air dari tangki-tangki distribusi yang dikirim BPBD maupun pemerintah kecamatan.
Kondisi ini memaksa warga mengubah aktivitas sehari-hari. Sebagian dari mereka harus mengantre untuk mendapatkan air bersih, sementara aktivitas ekonomi dan domestik ikut terganggu karena keterbatasan pasokan.
BPBD Karawang pun terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Pendistribusian air bersih menjadi prioritas utama untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak kekeringan.
Masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan efisien selama musim kemarau masih berlangsung. Warga yang membutuhkan bantuan dapat berkoordinasi dengan aparat desa setempat atau posko tanggap darurat yang didirikan pemerintah kecamatan.