BEKASI — Kemarau tahun ini disebut sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menyatakan dampaknya sudah meluas hingga ke pelosok desa.
Sumur Warga Mulai Mengering, BPBD Catat 83 Titik Krisis
“Dampak musim kemarau tahun ini telah menyebabkan 10.254 kepala keluarga (KK) atau 30.593 jiwa di Kabupaten Bekasi mengalami krisis air bersih,” kata Dodi di Bekasi, Rabu (29/7/2026) sore.
Ia menambahkan, sumur-sumur milik warga di sejumlah desa sudah mulai mengering. Sementara kebutuhan air untuk memasak, mandi, dan mencuci tetap harus dipenuhi setiap hari.
Hingga akhir Juli 2026, BPBD mencatat ada 83 titik kekeringan yang membutuhkan pasokan air bersih secara rutin.
Bantuan Air Bersih Sudah Disalurkan, 2,8 Juta Liter Didistribusikan
Pemerintah daerah bersama BPBD, perusahaan, organisasi kemanusiaan, dan lembaga sosial terus bergerak menyalurkan bantuan. “Total 2.892.300 liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat,” ujar Dodi.
Namun, jumlah itu masih jauh dari kebutuhan yang terus meningkat seiring bertambahnya titik kekeringan. Distribusi air bersih dilakukan secara bergilir ke desa-desa yang paling parah terdampak.
Desa Mana Saja yang Paling Parah?
Sebanyak 30 titik kekeringan terkonsentrasi di enam desa di Kecamatan Bojongmangu. Enam desa itu adalah Medalkrisna, Karang Indah, Karang Mulya, Sukamukti, Sukabungah, dan Desa Bojongmangu.
Setelah Bojongmangu, wilayah dengan jumlah titik kekeringan terbanyak berada di Kecamatan Serang Baru. Ada 20 titik yang tersebar di Desa Ridogalih, Ridomanah, Cibarusah Jaya, Cibarusah Kota, dan Sirnajati.
BPBD masih terus melakukan pendataan dan penambahan pasokan air bersih ke titik-titik baru yang dilaporkan warga setiap hari.