SUMEDANG — Sekolah dasar di Sumedang mulai memanfaatkan masa pengenalan lingkungan sekolah untuk menanamkan budaya sadar bencana. MI Raudlatul Muta’allimin Citeureup, Desa Cilayung, Kecamatan Jatinangor, menjadi salah satu yang menerapkannya dalam MATAMUDA tahun ajaran baru.
Relawan Jercy Latih Siswa Hadapi Gempa dan Kebakaran
Kegiatan itu menghadirkan Relawan Jatinangor Emergency Rescue Respon Community (Jercy) untuk melatih siswa di semua tingkatan. Materi mencakup pengenalan potensi bencana di lingkungan sekitar—dari gempa bumi hingga kebakaran—hingga praktik penyelamatan diri.
Para siswa diajak mengikuti simulasi evakuasi sederhana. Mereka belajar mengenali jalur evakuasi dan langkah-langkah yang harus dilakukan saat keadaan darurat di sekolah.
Kepala Madrasah: Keselamatan Tanggung Jawab Bersama
Kepala MI Raudlatul Muta’allimin Citeureup, Hassanudin S.Ag, mengatakan edukasi kebencanaan sengaja dimasukkan dalam rangkaian MATAMUDA untuk membentuk karakter siswa yang tanggap sejak awal.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menanamkan kesadaran kepada siswa sejak hari pertama masuk sekolah bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Harapannya, mereka memahami apa yang harus dilakukan jika sewaktu-waktu terjadi bencana, baik di sekolah maupun di rumah,” ujarnya.
Menurut Hassanudin, penyampaian materi oleh relawan membuat proses belajar lebih menarik karena disertai simulasi yang mudah dipahami anak-anak usia SD. Ia berharap para siswa tidak hanya mengenal lingkungan belajar baru, tetapi juga memiliki bekal dasar menghadapi potensi bencana.
Anak-anak Jadi Kelompok Paling Rentan Saat Bencana
Ketua Relawan Jercy, Dedeng Saepurohman, menekankan pentingnya pendidikan mitigasi diberikan sejak usia sekolah dasar agar menjadi kebiasaan hingga dewasa. Dedeng yang juga Kepala Desa Cilayung menyebut anak-anak sebagai kelompok rentan saat terjadi bencana.
“Karena itu, mereka perlu dikenalkan sejak dini mengenai cara melindungi diri, mengenali jalur evakuasi, serta pentingnya mengikuti arahan guru atau petugas saat keadaan darurat,” kata Dedeng.
Ia menambahkan, penyampaian materi kepada siswa SD harus dilakukan dengan cara menyenangkan—lewat permainan, cerita, dan simulasi sederhana—agar lebih mudah diingat. “Kami berharap para siswa memiliki pengetahuan dasar tentang mitigasi bencana dan mampu menerapkannya apabila menghadapi situasi darurat, sehingga tercipta budaya sadar bencana di lingkungan sekolah sejak dini,” pungkasnya.