Pencarian

11 Kecamatan di Garut Utara Diorbitkan Jadi Pusat Agroindustri Modern, Ketua PM Gatra Ungkap Target Kedaulatan Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 • 19:04:01 WIB
11 Kecamatan di Garut Utara Diorbitkan Jadi Pusat Agroindustri Modern, Ketua PM Gatra Ungkap Target Kedaulatan Ekonomi
Ketua PM Gatra menjelaskan rencana pengembangan 11 kecamatan Garut Utara sebagai pusat agroindustri modern.

GARUT — Rencana pembentukan Kabupaten Garut Utara tidak hanya bergulir di meja birokrasi, tetapi juga membawa visi besar tentang perubahan struktur ekonomi. Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen, menegaskan bahwa kawasan yang mencakup 11 kecamatan ini harus naik kelas dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi pengelola rantai nilai secara mandiri.

Mengapa 11 Kecamatan Ini Dinilai Strategis?

Cakupan wilayah Garut Utara meliputi Balubur Limbangan, Malangbong, Kadungora, Leles, Leuwigoong, Cibiuk, Cibatu, Selaawi, Sukawening, Karangtengah, dan Kersamanah. Kawasan ini berada di koridor strategis Bandung-Tasikmalaya-Jawa Tengah, memiliki lahan pertanian subur, sentra peternakan, serta UMKM yang berkembang.

Menurut Holil, potensi tersebut menjadikan Garut Utara bukan sekadar kawasan agraris, melainkan hamparan ekonomi terpadu. “Tantangan utamanya adalah mengubah pola pembangunan dari ekonomi berbasis bahan mentah menjadi ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah melalui proses hilirisasi dan inovasi,” ujarnya.

Hilirisasi: Kunci Agar Petani Tak Lagi Hanya Jual Bahan Baku

Selama ini, hasil pertanian dan peternakan dari Garut Utara sebagian besar dipasarkan dalam bentuk bahan baku. Akibatnya, nilai ekonomi yang lebih besar justru dinikmati daerah lain yang memiliki industri pengolahan dan sistem distribusi lebih maju.

Holil menekankan bahwa kawasan industri yang direncanakan tidak boleh dimaknai sekadar tempat berdirinya pabrik. “Kawasan industri harus menjadi pusat pertumbuhan yang menghubungkan sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, logistik, jasa, dan ekonomi kreatif,” jelasnya.

Ia meyakini efek berganda dari pengembangan kawasan ini akan membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat UMKM dan koperasi, serta menarik investasi produktif dan berkelanjutan.

Konsep 'Smart Agro-Industrial Ecosystem' yang Ditawarkan

Holil memperkenalkan konsep smart agro-industrial ecosystem, yakni ekosistem yang mengintegrasikan pertanian modern, industri pengolahan, sistem logistik, digitalisasi perdagangan, pendidikan vokasi, riset, dan pemberdayaan UMKM dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan.

Di sektor pertanian, penerapan smart farming dan mekanisasi akan meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi. Sementara di sektor perdagangan, pemanfaatan teknologi informasi akan memperluas akses pasar dan memperpendek rantai distribusi bagi pelaku usaha lokal.

“Garut Utara harus membangun kedaulatan ekosistem ekonominya sendiri. Petani, peternak, UMKM, koperasi, pesantren, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah menjadi bagian dari satu ekosistem pembangunan yang saling mendukung,” ungkap Holil.

Prinsip Keberlanjutan dan Dukungan Tata Ruang

Pembangunan kawasan ini juga harus berpijak pada prinsip keberlanjutan. Holil menegaskan bahwa kawasan industri wajib dikelola secara profesional dengan menerapkan konsep green industry, menjaga kelestarian lingkungan, dan melindungi lahan pertanian produktif.

“Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian alam dan peningkatan kualitas hidup masyarakat,” katanya.

Visi ini, menurutnya, memerlukan dukungan kebijakan tata ruang yang konsisten, pembangunan infrastruktur dasar yang memadai, peningkatan kualitas SDM, serta kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Bagikan
Sumber: fokusjabar.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks