JAWA BARAT — Apple akhirnya siap memasuki segmen ponsel lipat yang selama ini didominasi Samsung dan sejumlah merek asal China. Laporan terbaru menyebutkan, iPhone lipat perdana ini akan menjadi produk termahal yang pernah dirilis perusahaan, melampaui harga peluncuran iPhone X pada 2017 yang ketika itu dijual USD 999 (sekitar Rp 16,4 juta).
Keputusan menembus angka USD 2.000 ini menarik dicermati. Pasalnya, sebelumnya Apple dikabarkan menargetkan harga USD 1.999 agar tidak melewati "batas kontroversial" tersebut. Namun, strategi itu tampaknya berubah seiring melonjaknya biaya produksi komponen layar fleksibel dan engsel yang presisi.
Tidak seperti ponsel lipat lain yang sudah beredar, Apple disebut mengembangkan perangkat ini selama hampir satu dekade. Proses riset dan pengembangan yang panjang itu berfokus pada ketahanan layar lipat dan mekanisme engsel yang mulus, dua titik terlemah yang sering dikeluhkan pengguna ponsel lipat generasi awal.
Belum ada konfirmasi resmi soal spesifikasi teknis seperti ukuran layar, kapasitas baterai, atau chip yang digunakan. Namun, jika mengikuti pola peluncuran produk Apple sebelumnya, iPhone lipat ini dipastikan akan menggunakan chip terbaru dan material premium seperti titanium atau kaca keramik yang diperkuat.
Langkah Apple ini mengingatkan pada strategi peluncuran iPhone X pada 2017 silam. Saat itu, Apple menetapkan harga USD 999 untuk merayakan ulang tahun iPhone yang ke-10, sekaligus memperkenalkan desain baru tanpa tombol Home dan teknologi Face ID. Harga tersebut ketika itu dianggap sangat tinggi, namun terbukti sukses di pasaran.
Kini, pola serupa diulang. iPhone lipat diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan penjualan baru di tengah pasar smartphone yang jenuh. Dengan harga yang lebih tinggi, Apple juga menjaga margin keuntungan yang sehat sekaligus memposisikan produk ini sebagai barang premium eksklusif, bukan sekadar gadget massal.
Acara "Surprise and Shine" akan menjadi panggung pengumuman resmi perangkat ini. Untuk ketersediaan di Indonesia, biasanya Apple membutuhkan waktu beberapa bulan setelah peluncuran global untuk mengurus sertifikasi dan distribusi resmi.
Dengan banderol yang menyentuh USD 2.000, iPhone lipat ini jelas tidak ditujukan untuk semua orang. Produk ini menyasar pengguna profesional, kreator konten, dan early adopter yang menginginkan perangkat dengan layar besar namun tetap ringkas saat dibawa. Bagi pengguna yang lebih mementingkan nilai fungsional, varian iPhone reguler yang harganya jauh lebih rendah masih menjadi pilihan paling rasional.
Kita tunggu saja pengumuman resmi malam ini untuk mengetahui spesifikasi lengkap, varian penyimpanan, dan tanggal ketersediaan di pasar global.