JAWA BARAT — Rapat yang digelar secara hybrid itu membahas empat bencana utama: gempa bumi NTT, erupsi Gunung Anak Krakatau, karhutla di enam provinsi prioritas, serta progres rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh dan Sumatera. Suharyanto menegaskan seluruh upaya penanganan difokuskan pada pemulihan kondisi masyarakat dan infrastruktur terdampak.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan signifikan. Statusnya dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026, dengan Tim Pendahulu telah dikirim untuk memantau langsung kondisi di lapangan.
"Tadi kami sudah melakukan video conference dengan Kepala BPBD. Semuanya melaporkan bahwa tidak ada korban jiwa sementara yang dilaporkan," ujar Suharyanto dalam keterangannya, Senin (7/8/2026).
Paparan abu vulkanik terasa hingga DKI Jakarta, Banten, dan Lampung, dengan wilayah terdampak mencakup tiga kabupaten dan 15 kecamatan. Dampak erupsi cukup serius terhadap lalu lintas penerbangan di delapan bandara, mendorong BNPB menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hybrid untuk meluruhkan abu vulkanik.
Untuk gempa magnitudo (M) 7,7 di NTT, distribusi logistik telah mencapai 2.142 ton dengan tingkat penyaluran 98,39 persen. Sebanyak 115 sortie pesawat dan 2 kapal dikerahkan untuk mendukung operasi tersebut.
"Kami juga mendirikan tenda darurat sebagai sekolah sementara sehingga tidak ada anak-anak yang tidak bersekolah," kata Suharyanto.
Posko Dukungan Logistik Nasional di Bandara Halim resmi ditutup, dengan bantuan dialihkan ke Gudang Logistik BNPB di Jati Asih, Bekasi. Jaringan listrik dan telekomunikasi berangsur pulih, dan rumah sakit lapangan telah berdiri. BNPB kini tengah memverifikasi data kerusakan rumah untuk menyalurkan bantuan stimulan.
Tantangan terbesar masih datang dari kebakaran hutan dan lahan. Hingga 6 September 2026, total lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 72.009,10 hektare, dan 939,45 hektare di antaranya masih belum padam.
Operasi pemadaman melibatkan 43.481 personel gabungan dari BNPB, BPBD, TNI-Polri, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, dan relawan. Sebanyak 55 unit armada udara diterjunkan, terdiri dari 19 heli patroli atau pesawat OMC dan 36 heli water bombing. Tiga unit heli Chinook tambahan dari Kementerian Pertahanan dijadwalkan tiba 10 September 2026.
"Kendalanya terutama karakter lahan, akses, cuaca dan ketersediaan sumber air," ujarnya. Pada lahan gambut, api bisa bertahan di bawah permukaan sehingga petugas harus melakukan pendinginan dan pemantauan lebih lanjut.
Dalam laporannya, Suharyanto juga memaparkan progres rehabilitasi pascabencana di Aceh dan Sumatera. Dari 27.809 unit usulan hunian tetap (huntap), sebanyak 14.897 unit telah direviu dan siap dibangun. Total huntap yang sudah dalam proses pembangunan mencapai 1.055 unit, dengan rincian 841 unit telah selesai dan 214 unit sedang dikerjakan.
"Kami terus mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat proses verifikasi dan pencairan agar masyarakat segera dapat menyelesaikan perbaikan rumahnya," kata Suharyanto.
"Kami targetkan seluruh huntap yang sudah direviu dapat segera dibangun. Koordinasi dengan Kementerian PUPR dan pemerintah daerah terus kami perkuat," imbuhnya. Suharyanto optimistis seluruh bencana dapat ditangani secara bertahap melalui koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah.