JAWA BARAT — Paparan abu vulkanik bukan sekadar masalah debu biasa. Partikel halus yang terhirup bisa memicu iritasi hingga gangguan pernapasan serius pada anak. Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI pun merilis panduan lengkap yang perlu ibu terapkan di rumah.
Saluran pernapasan anak masih dalam tahap perkembangan, sehingga lebih sensitif terhadap partikel asing. Risiko ini makin tinggi pada anak dengan alergi saluran napas atau asma. Oleh karena itu, perlindungan sejak awal menjadi kunci utama, bukan menunggu gejala muncul.
Jika letusan terjadi dan abu mulai turun, langkah paling ideal adalah mengungsikan anak ke lokasi yang lebih aman. Namun, jika kondisi tidak memungkinkan, ibu wajib memastikan anak tetap berada di dalam rumah.
Pantau kualitas udara melalui situs resmi pemantau. Jika nilai ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) menunjukkan angka di atas 100, jangan biarkan anak keluar rumah sama sekali. Pastikan seluruh pintu dan jendela tertutup rapat untuk mencegah partikel masuk.
Ini poin penting yang sering terlewat. Ketika abu sudah mengendap di lantai atau furnitur, menyalakan kipas angin justru akan membuat partikel halus itu beterbangan kembali ke udara. Akibatnya, partikel tersebut lebih mudah terhirup oleh anak dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Begitu pula dengan AC atau alat yang menghisap udara dari luar. IDAI menyarankan peralatan ini dimatikan sementara. Jika tersedia, gunakan mode air recirculation atau closed vent agar sirkulasi udara tetap aman.
Jauhkan anak dari area pembersihan. Orang dewasa yang membersihkan abu sebaiknya menggunakan kain atau lap basah, bukan sapu kering. Basahi lantai dan permukaan benda terlebih dahulu sebelum dibersihkan agar partikel abu tidak beterbangan ke udara.
Untuk anak di atas 2 tahun, gunakan masker khusus anak yang terpasang dengan baik. Ajarkan cara memakainya dengan benar. Selain itu, berikan kacamata pelindung khusus anak dan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan langsung ke kulit sensitif.
Saat abu vulkanik menyerang, hindari menambah polusi tambahan di dalam ruangan. Jauhkan anak dari asap rokok dan asap dapur. Pastikan ventilasi dalam kondisi baik namun tetap tertutup dari partikel luar.
Ibu perlu waspada jika anak menunjukkan gejala sesak napas setelah terpapar abu vulkanik. Segera bawa ke rumah sakit apabila laju napas meningkat, ada tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen berdasarkan pemeriksaan oksimeter jari.
Jangan abaikan gejala gangguan pernapasan sekecil apa pun. Untuk anak dengan riwayat asma, pastikan obat rutin selalu tersedia dan mudah dijangkau. Pastikan juga anak cukup minum untuk mencegah dehidrasi yang bisa memperburuk kondisi.