JAWA BARAT — Satu dekade setelah dirilis pada 2015, UNDERTALE tetap menjadi fenomena yang sulit dijelaskan dengan logika pasar biasa. Di tahun 2025, game ber-pixel art ini justru mencatat rekor concurrent players tertinggi sepanjang masa di Steam—sebuah pencapaian yang langka untuk game dengan visual minimalis dan durasi main di bawah 10 jam. Momentum inilah yang coba ditangkap oleh UNDERTALE: The Determination Symphony dalam tur dunia 2026/2027.
Lonjakan pemain pada 2025 bukan kebetulan. Kombinasi ulang tahun ke-10, kedatangan fans baru dari Deltarune, dan fenomena konten kreator yang kembali membahas game ini menciptakan efek bola salju. Bagi mereka yang belum pernah menyentuh UNDERTALE, konser ini bisa menjadi pintu masuk yang lebih mudah dipahami daripada harus menyelesaikan game-nya yang penuh teka-teki moral.
Menariknya, data PwC Global Entertainment & Media Outlook 2025–2029 menunjukkan pasar game dan e-sports Indonesia menghasilkan sekitar US$1,6 miliar pada 2024. Proyeksi kenaikan hingga US$2,4 miliar di 2029 membuat Jakarta menjadi perhentian logis dalam tur Asia—setelah Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur.
Pertunjukan akan menampilkan 25 musisi dengan aransemen baru dari musik-musik ikonik UNDERTALE—dari "Megalovania" yang agresif hingga "Hopes and Dreams" yang emosional. Cuplikan gameplay akan diproyeksikan di atas panggung, mengajak penonton menyusuri Ruins, Snowdin, Waterfall, Hotland, dan New Home.
Yang perlu dicatat: ini bukan sekadar konser musik game biasa. Produser Lambert Jackson Productions bekerja sama dengan Materia Music punya rekam jejak dalam menghadirkan pengalaman orkestra yang sinematik, bukan sekadar orkestra membaca partitur di atas panggung. Untuk penggemar yang sudah hafal setiap nada, momen ketika orkestra membawakan "Undertale" (tema inti game) bersama proyeksi adegan karakter utama akan menjadi pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Harga mulai Rp977 ribu menempatkan acara ini di kelas konser orkestra premium. Sebagai perbandingan, konser game orkestra di Jepang atau Korea biasanya dibanderol antara Rp1,2 juta hingga Rp2,5 juta. Tiket kategori bawah ini sebenarnya masuk akal untuk pengalaman yang berdurasi sekitar dua jam plus jeda istirahat.
Tapi ada catatan penting. Penyelenggara menambahkan pertunjukan siang (matinee) setelah batch pertama ludes—ini indikasi kuat bahwa permintaan melebihi kapasitas venue. Bagi yang berniat datang, keputusan membeli tiket sebaiknya tidak ditunda. Pengalaman dari tur Asia sebelumnya menunjukkan tiket cenderung habis sebelum hari-H, dan harga jual ulang di platform seperti X atau Facebook Groups bisa melonjak hingga dua kali lipat.
Di balik euforia fans, keputusan 54 Entertainment dan Singapore Street Festival membawa tur ini ke Jakarta punya logika bisnis yang jelas. Komunitas gaming Indonesia terbukti tidak hanya besar, tapi juga kreatif—terlihat dari banyaknya fan-made arrangement dan cosplay event yang rutin digelar di berbagai kota. UNDERTALE, dengan musik yang sudah menjadi bagian dari budaya internet (ingat tren meme "Megalovania" di berbagai platform), punya basis penggemar yang lintas generasi.
Ini bukan lagi konser untuk "anak 90-an yang nostalgia". UNDERTALE justru unik karena mampu merekrut pemain baru setiap tahun—sebuah fenomena yang jarang terjadi di industri game yang didominasi sekuel tahunan.
Verdict awal dari data dan rekam jejak produser: acara ini layak dihadiri, terutama bagi fans yang ingin merasakan kembali momen-momen penting game dalam format orkestra. Harganya premium, tapi untuk pengalaman yang terjadi mungkin satu kali di Indonesia, ini termasuk kategori once in a lifetime—tergantung seberapa besar nilai nostalgia ada di dompet kamu.