8 Film Asia Selatan Siap Cari Pendanaan di Toronto, Ada Sineas Nominasi Cannes

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 23:31:01 WIB
Delapan proyek film Asia Selatan siap dipresentasikan di Toronto International Film Festival 2025 untuk mencari pendanaan dan mitra industri.

JAWA BARAT — Toronto International Film Festival (TIFF) 2025 akan menjadi saksi lahirnya delapan proyek film Asia Selatan yang siap menarik minat investor global. South Asian Screen Office of Canada bersama IFFSA Toronto dan Storiculture mengumumkan daftar sineas yang karyanya terpilih dalam program South Asian Screen Futures, sebuah jalur baru menuju pendanaan dan kemitraan industri.

Yang menarik, deretan nama di balik proyek ini bukanlah wajah baru di kancah festival internasional. Ada Payal Kapadia yang baru saja menyabet Grand Prix di Cannes 2024 lewat All We Imagine as Light, hingga Neeraj Churi yang membawa pulang penghargaan bergengsi di Sundance tahun ini.

Payal Kapadia dan Deretan Sineas Pemenang Festival

Payal Kapadia tercatat sebagai produser eksekutif untuk proyek berjudul Swarnapuchhri yang disutradarai Ritwik Goswami. Film ini mengikuti kisah seorang ibu yang mencari jawaban setelah anaknya hilang di tengah protes menentang pembangkit listrik tenaga nuklir. Naskahnya sendiri pernah memenangkan West Meets East Screenplay Lab di Dhaka International Film Festival.

Sementara itu, Neeraj Churi yang baru saja sukses memproduseri Cactus Pears (Sabar Bonda)—film India pertama yang memenangkan World Cinema Grand Jury Prize di Sundance 2025—kini terlibat dalam proyek Soma Helang. Film ini berkisah tentang seorang perempuan yang berusaha mempertahankan keluarganya yang menganut poligami di Himalaya setelah badai es menghancurkan hasil panen mereka.

Dua Proyek Kanada dengan Cerita yang Menyentuh Isu Sosial

Kanada menyumbang tiga proyek dalam seleksi ini. Pink City Skies yang disutradarai Maya Bastian mengangkat kisah seorang remaja yang pergi dari rumah setelah hubungannya dengan pacar laki-lakinya diketahui keluarganya. Bastian sebelumnya dikenal lewat film pendek Tigress yang didukung program Netflix/CFC Calling Card Accelerator.

Leslie Hope, aktris yang dikenal luas lewat perannya sebagai Teri Bauer di serial 24, bertindak sebagai produser untuk proyek ini. Ia juga aktif di belakang kamera dengan menyutradarai episode Snowpiercer dan Star Trek: Strange New Worlds.

Proyek lain berjudul A Suitable Wife for Her Husband yang ditulis dan diproduseri Avi Grewal dan Sunny Gill. Film ini mengikuti kisah seorang pemilik salon asal Afghanistan-Kanada yang diam-diam mencari istri kedua untuk suaminya.

Kolaborasi Lintas Negara dan Kisah Imigran

Satu proyek menarik datang dari kolaborasi tiga negara: Unbraided yang diproduksi bersama antara Arab Saudi, Belanda, dan Kanada. Film yang ditulis dan disutradarai Razan Alsoghayer ini mengikuti dua sahabat masa kecil yang menghadapi perubahan besar di Arab Saudi. Alsoghayer sendiri merupakan lulusan La Femis Paris dan British Film Institute.

Dari India, ada Moh yang ditulis dan disutradarai Subhadra Mahajan. Film ini bercerita tentang seorang janda India dan kekasih mendiang suaminya yang menjalin ikatan baru setelah perjalanan bersama. Mahajan bukan pendatang baru—debut fiturnya Second Chance tayang di kompetisi Karlovy Vary Film Festival 2024 dan berkeliling ke lebih dari 40 festival internasional.

Dari Krisis Iklim hingga Pemulihan Diri

Proyek A Varnam in Silence dari Kanada dan India mengangkat kisah seorang perempuan yang kehilangan suaranya setelah pemakaman ibunya. Kalainithan Kalaichelvan yang menyutradarai proyek ini sebelumnya mendapat nominasi Canadian Screen Awards untuk film pendeknya Karupy.

Sementara itu, Lefty yang datang dari Kanada menawarkan sudut pandang berbeda. Film karya Seth Mohan dan Esther Caszo ini mengikuti seorang pemuda yang menemukan jalan pemulihan dari kecemasan dan kecanduan melalui olahraga kriket.

Delapan proyek ini akan dipresentasikan di hadapan calon pendana dan mitra industri selama TIFF 2025 berlangsung. Inisiatif ini menjadi angin segar bagi sineas Asia Selatan yang selama ini kerap kesulitan menembus pasar distribusi global.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top