6 Fakta Penamaan Jalan di Bandung: dari Nama Kampung hingga Peristiwa APRA di Jalan Lembong

Penulis: Taufik Rahman  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:34:31 WIB
Jalan Lembong di Bandung menyimpan sejarah gugurnya Letnan Kolonel Adolf Gustaaf Lembong dalam peristiwa APRA 23 Januari 1950.

BANDUNG — Di balik papan nama yang terpasang di setiap sudut Kota Bandung, tersimpan narasi sejarah yang kerap luput dari perhatian. Nama-nama seperti Jalan Dago, Jalan Binong, hingga Jalan Lembong bukan sekadar penanda lokasi, melainkan cerminan perkembangan kawasan, penghormatan kepada tokoh, hingga saksi bisu peristiwa heroik.

Ahli Geografi dan Toponimi, T Bachtiar, menjelaskan bahwa proses penamaan jalan di kota ini tidak pernah lepas dari konteks sosial dan historis masyarakatnya. Berikut enam fakta yang ia ungkap.

1. Nama Kampung yang Melekat Menjadi Nama Jalan

Fakta pertama, banyak nama jalan yang diambil dari nama kampung yang sudah populer lebih dulu di tengah masyarakat. Ketika sebuah kawasan mulai berkembang dan dibangun akses jalan, nama kampung yang sudah dikenal luas itu otomatis digunakan sebagai nama jalan.

"Sejarah nama-nama jalan di Kota Bandung ada yang bersumber dari nama kampung, kemudian dijadikan nama jalan karena nama kampung itu sudah populer di masyarakat," ujar T Bachtiar saat dihubungi Koran Mandala, Minggu (23/8/2026).

2. Jejak Kepemilikan Tanah dan Peran Tokoh Lokal

Kategori kedua berasal dari nama tokoh masyarakat yang berjasa mengembangkan wilayah. Dalam beberapa kasus, nama jalan justru diambil dari nama pemilik tanah asli kawasan tersebut sebelum beralih fungsi menjadi area publik.

"Ada nama tokoh warga setempat yang berperan dalam pengembangan suatu daerah, atau kawasan itu semula tanah miliknya, maka namanya dijadikan nama jalan," katanya.

3. Fasilitas Umum Sebagai Penanda Lokasi

Penamaan jalan juga bisa lahir dari keberadaan bangunan atau fasilitas tertentu yang berdiri di kawasan itu. Keberadaan sebuah institusi kesehatan, misalnya, secara langsung mempengaruhi penamaan jalan di depannya.

"Ada bangunan rumah sakit, maka jalan di depannya dinamai Jalan Rumah Sakit," tuturnya.

4. Tema Terencana di Kawasan Hunian Baru

Untuk kawasan yang dibangun secara terencana, nama jalan biasanya mengikuti satu tema besar yang sudah ditentukan sejak awal. Tema tersebut bisa berupa kelompok ilmuwan, jenis hewan, hingga alat musik, sehingga membentuk identitas khas pada sebuah klaster perumahan.

"Ketika suatu kawasan dibangun, dibuat jalan-jalan, maka jalan itu dinamai dengan nama-nama yang sudah direncanakan. Misalnya kelompok nama-nama ilmuwan, nama binatang, nama alat musik, dan lain sebagainya," ujarnya.

5. Jalan Lembong dan Tragedi 23 Januari 1950

Fakta kelima menjadi yang paling bersejarah. Jalan Lembong memiliki latar belakang kelam terkait peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Nama jalan ini diambil untuk mengenang gugurnya Letnan Kolonel Adolf Gustaaf Lembong, seorang perwira militer yang ditembak oleh milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

"Jalan Lembong diberikan untuk menghormati tokoh yang gugur di sana. Jalan Lembong diambil dari nama tentara yang gugur di sana, yaitu Letnan Kolonel Adolf Gustaaf Lembong," katanya.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 23 Januari 1950 di depan Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi, yang kini dikenal sebagai Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Selain Jalan Lembong, nama-nama seperti Jalan Ibu Inggit Garnasih, Jalan Soekarno-Hatta, dan Jalan Oto Iskandar Di Nata juga memiliki keterkaitan erat dengan tokoh dan sejarah perjuangan bangsa.

6. Mengapa Nama Jalan Lama Tak Sebaiknya Diganti?

Terakhir, T Bachtiar menegaskan pentingnya mempertahankan nama-nama jalan lama yang sudah mengakar di masyarakat. Menurutnya, mengganti nama jalan dengan nama tokoh justru berisiko menghilangkan ingatan kolektif warga terhadap sejarah kawasannya.

"Sebaiknya nama-nama jalan itu tetap mempertahankan nama-nama lama, tidak diganti dengan nama-nama orang," ujarnya.

Ia mencontohkan Jalan Binong, Jalan Ciateul, dan Jalan Dago sebagai nama yang sebaiknya dipertahankan. Penghormatan terhadap tokoh berjasa, lanjutnya, tidak harus dilakukan dengan mengganti papan nama jalan.

"Penghargaan kepada orang-orang yang berjasa dibuat buku biografi, yang disimpan di perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum," pungkasnya.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: koranmandala.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top