BOGOR — Pemandangan berbeda terlihat di halaman Balaikota Kota Bogor saat upacara peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 digelar. Alih-alih seragam dinas atau jas formal, seluruh jajaran Forkopimda tampil kompak dengan busana adat Sunda yang sarat makna filosofis. Wali Kota Bogor, Kapolresta Bogor Kota, Dandim 0606/Kota Bogor, serta Ketua Pengadilan Negeri dan Kejaksaan Negeri setempat, semuanya mengenakan baju adat khas Sunda, mulai dari beskap hingga iket kepala.
Pilihan ini bukan tanpa alasan. Di tahun ke-544 usia Kota Bogor, penggunaan busana adat Sunda oleh para pemimpin daerah menjadi pesan visual yang kuat tentang pentingnya menjaga akar budaya. Dalam konteks Jawa Barat, Sunda bukan sekadar etnis, melainkan fondasi identitas yang harus terus dirawat. Momen HJB menjadi panggung tepat untuk menunjukkan bahwa para pemimpin tidak hanya bekerja untuk pembangunan fisik, tetapi juga peduli pada pelestarian warisan leluhur.
Kekompakan Forkopimda dalam satu balutan busana adat juga mencerminkan soliditas antarinstitusi di Kota Bogor. Di tengah dinamika politik dan birokrasi, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa tujuan bersama—memajukan Bogor—lebih besar dari perbedaan institusi. Warga yang hadir pun tampak antusias menyaksikan para pemimpinnya tampil beda, sebuah pemandangan yang jarang terjadi dalam upacara resmi pemerintahan. Hal ini sekaligus menjadi edukasi publik bahwa budaya Sunda layak dibanggakan dan dikenakan dalam berbagai kesempatan.
Peringatan HJB ke-544 bukan hanya tentang seremoni. Ini adalah momen refleksi bagi Kota Bogor yang terus bertransformasi. Dari kota kerajaan di masa lalu hingga menjadi daerah penyangga ibu kota, Bogor memiliki perjalanan panjang. Dengan mengenakan busana adat, Forkopimda seolah ingin mengatakan bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan tradisi. Sebaliknya, identitas lokal justru bisa menjadi kekuatan untuk membangun kota yang berkarakter.
Bagi generasi muda yang mungkin lebih akrab dengan pakaian modern, aksi Forkopimda ini bisa menjadi trigger untuk kembali melirik kekayaan budaya sendiri. Ketika pemimpin daerah—yang sehari-hari mereka lihat di televisi atau media sosial—tampil dengan beskap dan kebaya, pesan yang tersampaikan jauh lebih efektif ketimbang sekadar imbauan lisan. Identitas budaya bukanlah barang museum, melainkan pakaian yang layak dikenakan dengan bangga di era mana pun.
1. Apa itu HJB dan mengapa diperingati setiap tahun?
HJB adalah singkatan dari Hari Jadi Bogor. Peringatan ini digelar setiap tahun untuk memperingati berdirinya Kota Bogor sebagai daerah otonom. Tahun 2025 ini memasuki usia ke-544, menjadikannya salah satu kota tertua di Indonesia.
2. Apakah penggunaan baju adat Sunda di acara resmi akan menjadi tradisi baru di Bogor?
Belum ada keputusan resmi, namun langkah Forkopimda ini membuka peluang agar busana adat tidak hanya dipakai saat perayaan budaya, tetapi juga dalam momen-momen kenegaraan tertentu sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas lokal.