BOGOR — Nanik S Deyang bukan nama asing di lingkaran kekuasaan. Namun, perjalanan kariernya menarik perhatian karena berangkat dari dunia jurnalistik. Ia memulai karier sebagai wartawan di Tabloid Bangkit, lalu merambah ke jajaran manajemen sejumlah media nasional.
Pengalaman panjang di dunia media membuat Nanik akrab dengan isu sosial, ekonomi, dan politik. Ia juga aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan program pengentasan kemiskinan.
Nama Nanik mulai mencuat di panggung politik saat bergabung dalam tim pemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019. Kala itu, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Koalisi Adil Makmur untuk pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.
Setelah Prabowo memenangkan Pilpres 2024, karier Nanik di pemerintahan menanjak. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 145/P Tahun 2024, ia dilantik sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) periode 2024-2029.
Pada Juni 2025, ia dipercaya menjadi Komisaris Independen PT Pertamina (Persero). Jabatan itu kemudian dilepas setelah dirinya ditunjuk sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional pada September 2025.
Penunjukan sebagai wakil kepala menjadi batu loncatan penting. Kini, Nanik resmi naik menjadi orang nomor satu di BGN, menggantikan Dadan Hindayana.
Tugas yang menanti tidak ringan. Program Makan Bergizi Gratis menyedot anggaran ratusan triliun rupiah dan menyasar jutaan penerima manfaat di seluruh Indonesia. Keberhasilan program itu akan sangat bergantung pada kemampuan koordinasi, pengawasan, dan komunikasi publik yang efektif.
Perjalanan Nanik tidak selalu mulus. Namanya pernah ikut terseret dalam pusaran kasus hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet pada 2018. Saat itu, ia sempat dimintai keterangan sebagai saksi oleh penyidik Polda Metro Jaya.
Kini, perhatian publik tertuju pada tugas barunya. Dari ruang redaksi menuju ruang pengambil kebijakan, Nanik S Deyang kini menjadi bagian dari sejarah yang akan ditulis.