KOTA BEKASI — Angka 83,10 persen tersebut menempatkan Kota Bekasi di posisi teratas, mengungguli Kota Depok yang mencatat 78,85 persen dan Kota Cirebon dengan 78,09 persen. Capaian ini disebut sebagai kombinasi dari meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat dan tersedianya infrastruktur publik yang mendukung aktivitas positif.
Meski demikian, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan bahwa prestasi ini bukan alasan untuk berpuas diri. Ia justru menyoroti pergeseran kebiasaan remaja yang mulai beralih dari rokok konvensional ke rokok elektrik.
"Angka 83,10 persen ini tentu menggembirakan, tetapi bagi kami yang lebih penting adalah bagaimana angka ini bisa kita pertahankan bahkan ditingkatkan," kata Tri Adhianto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, dikutip Minggu (09/08/2026).
Mengapa Vape Dianggap Ancaman Laten bagi Remaja?
Tri menilai edukasi yang selama ini diberikan masih berfokus pada bahaya rokok konvensional. Padahal, tren di kalangan anak muda saat ini justru menunjukkan peningkatan penggunaan vape yang dikemas lebih modern dan mudah diakses.
"Edukasi tidak cukup hanya membahas rokok konvensional, tetapi juga perlu memberikan pemahaman mengenai rokok elektrik atau vape yang semakin dekat dengan anak muda," tegasnya.
Untuk menekan potensi pergeseran ini, Pemkot Bekasi gencar menyediakan ruang publik yang menunjang aktivitas generasi muda. Pembangunan taman, ruang terbuka hijau, hingga pengembangan Sport City terus didorong agar remaja memiliki alternatif kegiatan di luar kebiasaan merokok.
Berapa Jumlah Perokok yang Terdata di Kota Bekasi?
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi hingga 28 Juni 2026 mencatat sebanyak 3.334 perokok teridentifikasi melalui Aplikasi Sehat Indonesiaku. Angka ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5.101 orang.
Hasil skrining tersebut melibatkan 134.723 orang berusia 7 tahun ke atas. Dari jumlah itu, perokok aktif mayoritas didominasi warga berusia 18 tahun ke atas, atau sekitar 5,2 persen dari total peserta skrining.
Bagaimana Upaya Dinkes Membantu Warga Berhenti Merokok?
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bekasi, Vevie Herawati, menyebut pihaknya menjalankan sejumlah langkah mitigasi untuk menekan angka perokok. Fokus utama adalah memperkuat layanan kesehatan di tingkat puskesmas.
"Secara umum, dalam upaya meminimalisir tingkat angka perokok, Dinkes Kota Bekasi melakukan berbagai upaya mitigasi dan penanganan terkait layanan kesehatan berhenti merokok," ujar Vevie kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Rabu (29/07/2026).
Langkah yang ditempuh antara lain membuka Klinik Upaya Berhenti Merokok (UBM) di puskesmas yang menyediakan layanan konseling bagi warga yang ingin lepas dari ketergantungan rokok. Selain itu, Dinkes juga menggencarkan sosialisasi bahaya merokok, termasuk jenis rokok elektrik, serta memperketat implementasi Kawasan Tanpa Rokok di lingkungan sekolah dan fasilitas publik.