Pencarian

Faktor Geografi dan Fisika Jadi Alasan Mengapa Pesawat Luar Angkasa Rusia Mendarat di Darat, Sementara NASA Mendarat di Laut

Senin, 15 Juni 2026 • 12:17:01 WIB
Faktor Geografi dan Fisika Jadi Alasan Mengapa Pesawat Luar Angkasa Rusia Mendarat di Darat, Sementara NASA Mendarat di Laut
Pesawat luar angkasa Rusia mendarat di darat karena faktor geografis dan fisika yang mendukung.

Dua raksasa antariksa dunia, Amerika Serikat (NASA) dan Rusia (Roscosmos), memiliki dua metode yang sangat kontras untuk membawa pulang astronot mereka dari luar angkasa. NASA memilih untuk mendaratkan kapsulnya di lautan — sebuah proses yang dikenal sebagai splashdown — sementara Rusia justru selalu mendaratkan kapsul Soyuz di permukaan tanah padat di stepa Kazakhstan. Perbedaan ini, yang tampak sepele, sebenarnya lahir dari kondisi geografis dan prinsip fisika yang tak bisa dihindari.

Pengaruh Garis Lintang dan Rotasi Bumi

Faktor pertama dan paling krusial adalah lokasi peluncuran. Rusia meluncurkan roketnya dari Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan, yang berada di garis lintang 46 derajat utara. Posisi ini sangat jauh dari garis khatulistiwa, sehingga rotasi Bumi tidak memberikan banyak "dorongan" tambahan pada roket saat lepas landas.

Akibatnya, pesawat ruang angkasa Rusia tidak bisa membawa banyak bahan bakar untuk melakukan manuver pendaratan yang rumit. Mereka harus memanfaatkan lintasan alami yang jatuh kembali ke daratan, bukan ke laut. Sebaliknya, NASA meluncurkan misi berawak dari Cape Canaveral, Florida, yang berada di lintang 28 derajat utara — lebih dekat ke khatulistiwa. Rotasi bumi memberi kecepatan tambahan sehingga roket dapat membawa lebih banyak propelan, memungkinkan opsi pendaratan yang lebih fleksibel, termasuk di lautan.

Luas Wilayah: Daratan vs. Lautan

Faktor kedua adalah ketersediaan wilayah darat yang aman. Rusia memiliki wilayah daratan yang sangat luas, membentang dari Eropa Timur hingga ke Samudra Pasifik. Namun, untuk misi Soyuz, lokasi pendaratan yang dipilih adalah stepa Kazakhstan yang lapang dan jarang penduduk. Area ini memberikan "lapangan pendaratan" alami yang sangat luas dan aman bagi kapsul yang jatuh dengan parasut.

Di sisi lain, Amerika Serikat tidak memiliki daratan seluas itu di zona pendaratan yang tepat. Samudra Atlantik dan Pasifik menjadi pilihan paling logis karena aman, luas, dan tidak perlu membangun infrastruktur darat yang rumit. Tim penyelamat NASA, seperti kapal angkatan laut, bisa dengan cepat mencapai kapsul yang mengapung di laut.

Biaya dan Logistik Pendaratan

Pendaratan di darat, seperti yang dilakukan Soyuz, membutuhkan sistem pengereman roket (retrorocket) yang dinyalakan tepat sebelum menyentuh tanah untuk memperlambat laju jatuh. Sistem ini menambah bobot dan kompleksitas pesawat. Namun, keuntungannya adalah kapsul bisa mendarat di lokasi yang sudah ditentukan dan bisa diakses langsung oleh tim darat tanpa perlu kapal.

Sebaliknya, splashdown NASA memanfaatkan air sebagai bantalan alami, yang mengurangi kebutuhan akan sistem pengereman roket yang berat. Namun, risiko yang mengintai adalah jika kapsul terbalik di air atau jika kondisi laut buruk, proses evakuasi bisa menjadi rumit dan berbahaya. Ini adalah pertukaran teknis yang sudah diperhitungkan oleh kedua badan antariksa selama puluhan tahun.

Apa Artinya bagi Masa Depan Antariksa Indonesia?

Bagi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, posisi geografis ini justru menjadi keuntungan besar. Lokasi peluncuran di dekat khatulistiwa memberikan dorongan rotasi bumi yang maksimal, mirip dengan keunggulan yang dimiliki NASA. Namun, dengan wilayah kepulauan yang dikelilingi lautan, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengadopsi model splashdown ala NASA untuk misi berawak pertamanya di masa depan — sebuah pilihan yang paling sesuai dengan kondisi geografis dan logistik Nusantara.

Bagikan
Sumber: slashgear.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks