SUKABUMI — Sampah organik di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sukabumi mencapai 3 kubik per hari. Dominasinya adalah daun kering, sisa makanan kantor, dan kertas. Melalui inovasi biopori, Pemkab Sukabumi memutar limbah itu menjadi pupuk kompos yang langsung dimanfaatkan untuk tanaman di area perkantoran.
Gerakan ini diuji coba di halaman Gedung Negara Pendopo Sukabumi, Jalan Raya Ahmad Yani, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Sekda Ade Suryaman meninjau langsung lokasi pembuatan lubang biopori dan menegaskan bahwa inovasi ini akan diinstruksikan ke seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Lubang Berdiameter 40-45 Sentimeter, Kedalaman 90 Sentimeter
Asisten Daerah (Asda) III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Sukabumi, Gun Gun Gunardi, menjelaskan spesifikasi teknis lubang biopori. "Diameter 40–45 sentimeter dengan kedalaman 90 sentimeter, kapasitas sekitar 80 liter. Sampah organik dimasukkan, kemudian berputar menjadi pupuk," ujarnya.
Pupuk kompos yang dihasilkan akan digunakan kembali untuk tanaman dan bunga di lingkungan kantor. Pemkab Sukabumi juga membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk memanfaatkan pupuk tersebut.
Mengapa Biopori Dipilih?
Biopori dipilih karena memiliki dua fungsi sekaligus. Pertama, meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sehingga meminimalisasi genangan saat musim hujan. Kedua, menjadi sarana pengelolaan sampah organik secara alami tanpa perlu biaya operasional besar.
"Persampahan di area perkantoran makin meningkat. Melalui uji coba biopori ini, sampah daun organik akan kita olah langsung menjadi kompos. Gerakan ini sudah ditugaskan ke setiap dinas dan akan kita contohkan terlebih dahulu di Setda, Pendopo Palabuhanratu, serta Pendopo Sukabumi," kata Ade Suryaman.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Sekda Ade menambahkan bahwa program ini merupakan langkah kecil dengan dampak besar. Selain menekan volume sampah, biopori juga menjadi sarana edukasi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat luas dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Pemkab Sukabumi berharap gerakan berkelanjutan ini dapat memicu kebiasaan baru di lingkungan perkantoran. Target jangka panjangnya adalah memperkuat budaya peduli lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan daerah terhadap dampak perubahan iklim global.