Kenaikan ini terasa sejak awal bulan, memukul hampir seluruh pengusaha tempe skala mikro dan kecil di wilayah Cibinong, Citeureup, hingga Babakan Madang. Bahan baku utama yang semula di kisaran Rp 10.000 per kilogram kini merangkak naik, sementara plastik kemasan yang digunakan untuk membungkus tempe juga ikut melonjak.
Biaya Produksi Bengkak, Margin Perajin Tipis
Seorang pengusaha tempe di Kecamatan Cibinong mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai dan plastik terjadi hampir bersamaan. Kondisi ini memaksa mereka menekan keuntungan atau mengurangi volume produksi agar tetap bisa bertahan di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih.
"Kedelai naik terus, plastik juga naik. Kalau kami ikut naikkan harga jual, pembeli pada kabur. Jadi terpaksa produksi dikurangi," ujarnya, Senin lalu.
Mengapa Harga Kedelai dan Plastik Naik Bersamaan?
Kenaikan harga kedelai impor dipicu oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta terganggunya rantai pasok global. Sementara itu, harga plastik terdampak oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang menjadi bahan baku utama industri petrokimia.
Kombinasi dua faktor eksternal ini membuat biaya produksi tempe—makanan pokok sumber protein murah bagi masyarakat—melonjak dalam waktu singkat. Para pengusaha menilai situasi ini lebih berat dibandingkan lonjakan harga sebelumnya pada awal 2024.
Desakan ke Pemkab Bogor: Intervensi Harga atau Bantuan Langsung
Para perajin berharap Pemerintah Kabupaten Bogor bisa menggelar operasi pasar khusus kedelai untuk UMKM atau memberikan subsidi ongkos produksi. Mereka juga meminta dinas terkait duduk bersama dengan distributor dan asosiasi pengusaha tempe untuk mencari solusi jangka pendek.
"Kami minta pemerintah bergerak. Jangan sampai usaha tempe di Bogor mati karena harga bahan baku tidak terkendali," kata pengusaha tersebut.
Apa Langkah Selanjutnya dari Pemerintah?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor. Namun, para pengusaha berharap ada respons cepat mengingat tempe merupakan kebutuhan pokok yang dikonsumsi hampir setiap hari oleh warga Bogor dan sekitarnya.
Jika tidak segera diantisipasi, kelangkaan tempe di pasaran bisa terjadi dalam beberapa pekan ke depan, seiring banyak perajin yang memilih berhenti produksi sementara.