Pemkot Bogor, PT KAI, dan GoTo Teken MoU Penataan Stasiun Bogor, Bangunan Bersejarah 1881 Jadi Muka Depan

Penulis: Ridho Pratama  •  Senin, 07 September 2026 | 23:01:01 WIB
Pemkot Bogor, PT KAI, dan GoTo menandatangani nota kesepahaman untuk menata kawasan Stasiun Bogor.

BOGOR — Tiga pihak, yakni Pemkot Bogor, PT KAI, dan GoTo, sepakat berkolaborasi dalam penataan kawasan Stasiun Bogor. Nota kesepahaman itu diteken di tengah proses revitalisasi yang sejatinya sudah berjalan, salah satunya pengerjaan peron 4 dan 5.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyambut baik konsep revitalisasi yang dimiliki PT KAI. Menurut dia, pemerintah daerah sebelumnya telah menata tiga ruas jalan di sekitar stasiun, yaitu Jalan Dewi Sartika, Jalan Nyi Raja Permas, dan Jalan MA Salmun.

"Pemerintah Kota Bogor sudah melakukan satu langkah, yaitu penataan Jalan Dewi Sartika, Jalan Nyi Raja Permas, dan Jalan MA Salmun. Ternyata PT KAI juga sudah memiliki konsep dan rencana untuk revitalisasi atau penataan Stasiun Bogor," ujar Dedie.

Jalan Dewi Sartika Diluruskan hingga Alun-Alun

Penataan yang dilakukan Pemkot Bogor menyasar bangunan yang menjorok ke badan jalan. Dedie menyebut bangunan-bangunan itu akan dibongkar agar akses dari Alun-Alun Bogor menuju Jalan Sawojajar lebih lurus tanpa hambatan.

"Nanti kita akan lakukan pemotongan atau pembongkaran bangunan yang menjorok ke jalan supaya Jalan Dewi Sartika itu tidak ada obstacle-nya, tidak terhambat oleh bangunan. Sehingga dari Alun-Alun sampai dengan Jalan Sawojajar itu lurus," ungkapnya.

Identitas Historis Stasiun Bogor Tetap Dipertahankan

Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin memastikan bangunan Stasiun Bogor yang dibangun pada 1881 tidak akan dihilangkan. Bangunan cagar budaya itu justru akan menjadi wajah utama dari konsep New Stasiun Bogor.

"Kami akan mengembalikan identitas Stasiun Bogor yang secara historis sangat kuat dengan bangunan tahun 1881. Nantinya bangunan tersebut akan menjadi muka atau bagian depan dari New Stasiun Bogor," kata Bobby.

Tiga Konsep Revitalisasi: Konektivitas, Ruang, dan Moda Baru

PT KAI menyiapkan tiga konsep utama dalam penataan stasiun. Konsep pertama adalah konektivitas antara Stasiun Bogor dan Stasiun Paledang dengan kawasan di sekitarnya, termasuk integrasi dengan moda transportasi lain seperti Trans Pakuan dan angkutan daring.

Konsep kedua berkaitan dengan penataan ruang. Kawasan stasiun nantinya tidak hanya menjadi ruang terbuka, tetapi juga ruang usaha dan ruang ekonomi yang mendukung aktivitas masyarakat. PT KAI menyebut konsep ini sebagai Transit Oriented Development (TOD).

Adapun konsep ketiga membuka peluang hadirnya moda transportasi perkotaan baru. PT KAI dan Pemkot Bogor tengah berdiskusi mengenai kemungkinan menghadirkan LRT atau trem yang terintegrasi dengan kawasan stasiun.

"Di situ ada Trans Pakuan, kemudian ada angkutan daring dan angkutan-angkutan yang lain. Bahkan, kami berdiskusi dengan Pak Wali bagaimana menghadirkan, apakah konsepnya LRT perkotaan atau trem perkotaan. Nanti semuanya terintegrasi di sini," ungkap Bobby.

Peron 6-8 Kini Beroperasi, Kapasitas Penumpang Naik 30 Persen

Revitalisasi Stasiun Bogor sebenarnya telah dimulai sebelum MoU diteken. Peron 6, 7, dan 8 yang sempat ditutup selama tiga bulan untuk pengerjaan kini sudah dibuka kembali. Peron tersebut diperpanjang dan dilengkapi kanopi, sehingga kapasitas angkut penumpang meningkat sekitar 30 persen setiap harinya.

Saat ini giliran peron 4 dan 5 yang ditutup untuk penambahan kanopi. Bobby menjelaskan penambahan fasilitas itu dilakukan agar pelanggan tidak kehujanan saat menunggu kereta.

Dengan adanya MoU ini, penataan Stasiun Bogor diharapkan berjalan terpadu antara pemerintah daerah, PT KAI, dan pihak terkait lainnya. Kolaborasi itu sekaligus mendorong peningkatan konektivitas transportasi dan aktivitas ekonomi di pusat Kota Bogor.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: bogordaily.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top