JAWA BARAT — Marc Marquez memang berhasil merebut gelar juara dunia MotoGP musim lalu bersama Ducati. Tapi menurut Kenny Roberts, gelar itu tidak otomatis berarti Marquez sudah menemukan kenyamanan penuh dengan motor Desmosedici yang dikendarainya.
"Saya suka Marquez, karena dia sangat agresif. Dia mungkin pebalap yang paling sering saya ikuti. Saya tidak suka semua kesalahan yang dia buat, tapi itu bagian dari sifat agresifnya," ujar Roberts dikutip dari GPOne, Senin (24/8/2026).
Roberts melihat perbedaan mencolok antara cara Marquez mengendarai Honda di awal kariernya dengan caranya mengendarai Ducati sekarang. Menurut legenda balap berjuluk King Kenny itu, Marquez terlihat lebih natural dan percaya diri saat masih membela Honda.
"Dia tidak pernah terlihat benar-benar nyaman dengan motor ini, tidak seperti saat dia mengendarai Honda di tahun-tahun awal. Gaya berkendaranya berbeda dari yang lain dan saya rasa dia membutuhkan motor yang dirancang khusus untuk gaya tersebut. Saya rasa saat ini dia belum memilikinya," lanjut Roberts.
Perbedaan ini wajar. Marquez dikenal dengan gaya balap agresif yang mengandalkan trail braking dalam dan sudut kemiringan ekstrem. Ducati selama ini dikenal sebagai motor yang stabil dan mudah dikendarai, tapi karakter itu justru bisa membatasi pebalap dengan gaya ekstrem seperti Marquez.
Roberts mengaku pernah mengalami situasi serupa saat membalap dengan Yamaha. Posisi berkendara yang tidak sesuai dengan postur tubuhnya membuatnya kesulitan mengekstrak potensi maksimal motor.
Dari pengalaman itulah Roberts percaya pabrikan seharusnya lebih mengutamakan kebutuhan pebalap utama mereka. "Apa yang harus dilakukan, mengembangkan motor untuk semua orang atau untuk dia? Jelas harus dikembangkan untuk dia," tegas Roberts.
Pernyataan Roberts ini menyentuh persoalan mendasar dalam pengembangan motor balap. Motor yang secara teknis sempurna—dengan keseimbangan, tenaga, dan elektronik terbaik—belum tentu cocok untuk semua pebalap.
Karakter dan gaya berkendara menjadi faktor penentu agar potensi motor bisa dimaksimalkan di lintasan. Sebuah motor yang dianggap "terbaik" oleh insinyur bisa terasa salah di tangan pebalap dengan gaya tertentu.
Komentar Roberts ini muncul di tengah spekulasi masa depan Marquez di Ducati. Jika pabrikan asal Italia itu ingin mempertahankan Marquez, mereka mungkin perlu mempertimbangkan arah pengembangan motor yang lebih personal.
Di sisi lain, Ducati juga harus menjaga keseimbangan karena mereka memiliki banyak pebalap lain yang menggunakan motor yang sama. Mengembangkan motor khusus untuk satu pebalap bisa menciptakan masalah baru di internal tim.
Yang jelas, pernyataan Kenny Roberts menambah diskusi menarik tentang bagaimana sebuah pabrikan menyeimbangkan kebutuhan pebalap bintang dengan kebutuhan tim secara keseluruhan. Untuk Marquez, menemukan motor yang benar-benar cocok dengan gaya agresifnya bisa menjadi kunci mempertahankan dominasinya di MotoGP.