BANDUNG — Data BPBD Jawa Barat menunjukkan sebaran karhutla kali ini jauh lebih luas dibandingkan periode sebelumnya. Selain Sukabumi yang mencatat kerusakan terbesar, sejumlah daerah penyangga ibu kota provinsi juga ikut terdampak, menandakan bahwa persoalan ini bukan lagi dominasi kawasan selatan Jawa Barat.
Kabupaten Cianjur mencatat lima kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 7,40 hektare. Sementara itu, Pangandaran mengalami tiga kejadian dengan total 4,07 hektare, dan Kota Sukabumi mencatat empat kejadian dengan luas 3,01 hektare.
Di luar wilayah selatan, Kabupaten Garut dan Kabupaten Bogor masing-masing mencatat luas lahan terbakar sekitar 2 hektare. Kota Bandung juga masuk dalam daftar daerah terdampak dengan tiga kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 0,58 hektare.
Meski jumlahnya relatif kecil, karhutla juga tercatat terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Karawang, Kota Depok, hingga Kabupaten Indramayu. Sebagian wilayah bahkan hanya mengalami satu hingga dua kejadian, namun tetap menjadi perhatian karena berpotensi meluas jika angin kencang bertiup.
Sebaran kasus yang telah menjangkau 19 kabupaten dan kota menunjukkan bahwa karhutla bukan lagi persoalan yang terkonsentrasi di satu kawasan tertentu. Kondisi lahan yang kering akibat kemarau panjang membuat api mudah menjalar, terutama di area semak belukar dan lahan gambut dangkal.
BPBD Jawa Barat memiliki tugas dalam pengelolaan sistem data dan informasi kebencanaan serta kebakaran di wilayah Jawa Barat. Informasi kebencanaan tersebut juga disebarluaskan melalui kanal resmi BPBD Jabar dan sistem informasi kebencanaan daerah.
Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, potensi penambahan titik kebakaran masih menjadi ancaman yang perlu diwaspadai di berbagai wilayah Jawa Barat. Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, mengingat sanksi hukum tegas menanti pelaku pembakar lahan.
Pihak BPBD terus memantau titik panas melalui citra satelit dan laporan petugas lapangan. Koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan TNI-Polri juga diperkuat untuk mempercepat respons pemadaman jika muncul titik api baru di daerah yang sebelumnya tidak terdampak.