JAKARTA — Setelah mencatat penguatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, harga emas dunia (XAUUSD) kini menghadapi tekanan jual yang meningkat. Analis Dupoin Futures menilai pasar sedang memasuki fase konsolidasi wajar, di mana sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan sebelum mencari katalis baru.
Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menjelaskan bahwa struktur pergerakan harian emas mulai menunjukkan sinyal pelemahan. Terbentuknya swing high baru mengindikasikan momentum kenaikan kehilangan tenaga, sementara indikator Stochastic yang bergerak turun menuju area oversold memperkuat tekanan bearish jangka pendek.
"Kombinasi faktor teknikal dan fundamental berpotensi membuat pergerakan emas lebih dinamis, dengan kecenderungan melemah terlebih dahulu sebelum pasar menentukan arah selanjutnya," ujar Geraldo dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (15/8/2025).
Dalam proyeksi Dupoin Futures, area 4.220 menjadi level support sekaligus demand zone yang perlu dicermati. Zona tersebut berpotensi menjadi titik munculnya kembali minat beli apabila tekanan jual mulai mereda dan pasar memperoleh sentimen positif baru.
Dari sisi fundamental, emas sebenarnya masih mendapatkan dukungan setelah data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat periode Juli tidak mengalami kenaikan. Sinyal meredanya tekanan inflasi di tingkat produsen membuat pelaku pasar semakin optimistis bahwa Federal Reserve (The Fed) memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan atau melonggarkan kebijakan moneternya.
Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi faktor yang menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, sekaligus berpotensi membatasi penguatan dolar AS. Namun, setelah reli panjang, kondisi seperti ini merupakan hal yang umum terjadi ketika pelaku pasar mulai mengamankan keuntungan.
Dupoin Futures menegaskan bahwa pelemahan harga belum dapat diartikan sebagai perubahan tren utama menjadi bearish. Koreksi lebih dipandang sebagai proses penyesuaian yang sehat di tengah tren yang sebelumnya didominasi kenaikan.
Pada pekan depan, perhatian pelaku pasar diperkirakan tertuju pada sejumlah indikator ekonomi AS, termasuk perkembangan inflasi, data tenaga kerja, serta komentar para pejabat Federal Reserve. Setiap perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah, yang selama ini menjadi faktor utama penentu arah harga emas.
Dinamika geopolitik global juga tetap menjadi variabel yang tidak dapat diabaikan. Apabila ketidakpastian global kembali meningkat, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas berpotensi menguat dan membatasi ruang pelemahan harga. Sebaliknya, jika sentimen risiko membaik, tekanan jual berpotensi berlanjut dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.