JAWA BARAT — Meta mengungkapkan fakta baru soal perilaku belanja pengguna platformnya. Raksasa teknologi ini mencatat konsumen yang menemukan produk lewat Instagram, Facebook, atau WhatsApp cenderung membelanjakan uang 30% lebih banyak dibanding rata-rata pembelanja online. Temuan ini disampaikan dalam acara Virtual Briefing APAC Meta Business Updates 2026, Kamis (13/8).
Angka ini muncul dari analisis perilaku 3,6 miliar pengguna harian aplikasi Meta. Jumlah tersebut hampir mewakili separuh populasi dunia yang mengakses platform tersebut setiap hari.
Kawasan Asia-Pasifik memegang peran kunci dalam tren ini. Data Meta menunjukkan konsumen di wilayah ini lebih aktif berbelanja dibanding wilayah lain. Fakta menariknya, perayaan belanja lokal seperti tanggal kembar 12.12 mencatatkan persentase pembelanjaan lebih tinggi, yakni 69%, dibandingkan Black Friday yang hanya 49%.
"Konsumen yang berbelanja selama musim liburan di kawasan Asia-Pasifik lebih cenderung beralih ke media sosial untuk mencari inspirasi dibandingkan konsumen di wilayah lain," ujar Ben Joe, Vice President Meta Asia Pacific. Media sosial kini menjadi sumber inspirasi utama pembeli di kawasan ini.
Meta mengklaim kecerdasan buatan (AI) menjadi tulang punggung peningkatan kualitas iklan di platformnya. Lebih dari 9 juta usaha kecil kini menggunakan perangkat kreatif berbasis AI Meta untuk menjangkau audiens.
"Alih-alih berteriak di tengah keramaian dengan harapan ada yang mendengarkan, kita justru membisikkan hal yang tepat kepada orang yang tepat pada saat yang tepat," jelas Ben Joe.
Pendekatan ini disebut berhasil menampilkan iklan yang memang ingin dilihat pengguna. Algoritma AI Meta kini mampu memprediksi produk yang relevan berdasarkan aktivitas scrolling pengguna.
Fenomena lain yang menonjol adalah pertumbuhan affiliate marketing di platform Meta. Kawasan Asia-Pasifik menunjukkan tingkat kepercayaan lebih tinggi terhadap rekomendasi produk dari kreator dibanding wilayah lain, dengan angka 6 poin di atas rata-rata global.
"Orang biasanya tidak memedulikan iklan-iklan yang muncul di sisi halaman web. Namun, jika seorang kreator berkata, hei, saya sudah mencoba ini dan produk ini mengubah hidup saya, Anda justru akan mengeklik tautan tersebut," terang Ben Joe.
Lebih dari 10 juta kreator di Asia-Pasifik telah bergabung dengan program affiliate Meta dalam setahun terakhir. Para kreator ini mengantongi komisi lebih dari USD 24 juta atau sekitar Rp 428 triliun hanya dalam satu bulan terakhir.
Data ini relevan bagi kreator konten gaming di Indonesia yang aktif di Instagram dan Facebook. Peluang monetisasi lewat affiliate marketing kini semakin terbuka, terutama bagi mereka yang punya basis pengikut loyal.
Meta juga sedang menguji coba fitur iklan baru untuk mempermudah kerja sama antara merek dan kreator. Langkah ini diprediksi akan memperluas ekosistem affiliate marketing di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia yang merupakan salah satu pasar terbesar Meta.