Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dicky Chandra Prihatin Banyak Mahasiswa dan Pelajar Tak Kenal Mendong hingga Besong

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 18:15:31 WIB
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dicky Chandra menyampaikan keprihatinan terhadap minimnya pengetahuan mahasiswa dan pelajar tentang mendong dan besong sebagai produk budaya lokal.

TASIKMALAYA — Dicky Chandra mengaku menemukan fakta mengejutkan saat berinteraksi dengan mahasiswa dan pelajar di Kota Tasikmalaya. Banyak dari mereka yang tidak mengetahui apa itu mendong dan besong, dua produk budaya yang menjadi identitas daerah.

“Saya tanya ke mahasiswa dan anak SMA di Tasik, siapa yang tahu mendong? Hanya empat orang yang tahu. Saya tanya besong, hampir tidak ada yang tahu,” ungkapnya di hadapan kontingen dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat.

Padahal, menurut Dicky, besong pernah menjadi komoditas ekspor ke Malaysia. Hilangnya pengetahuan ini dinilai bisa menggerus identitas budaya sekaligus menghilangkan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal.

Makanan Khas Daerah Juga Mulai Terlupakan

Dalam sambutannya, Dicky juga memperkenalkan sejumlah kekhasan Tasikmalaya kepada para peserta Peksimida. Ia mencontohkan Kupat Tanjung, makanan khas yang hanya bisa ditemukan di Kota Tasikmalaya.

“Kupat Tanjung itu cuma ada di Kota Tasikmalaya karena dibuat dari air Tanjung di Kawalu yang rasanya asin, padahal jauh dari laut,” ujarnya.

Ia pun menceritakan pengalaman serupa saat berada di Garut. Dicky mendapati mahasiswa di sana tidak mengenal makanan khas Mata Lembu. Hal serupa terjadi di Tasikmalaya, di mana pelajar justru asing dengan produk budayanya sendiri.

Dorong Sekolah Masukkan Muatan Lokal ke Kurikulum

Dicky menilai persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ia mendorong sekolah dan perguruan tinggi untuk memasukkan muatan budaya lokal dalam proses pembelajaran.

“Saya berharap di perguruan tinggi, SD, SMP, sampai SMA kita mengenalkan apa yang bisa menjadi penggerak ekonomi daerah. Saya tidak yakin wawasan kebangsaan akan tumbuh kalau wawasan kelokalannya hilang,” tegasnya.

Menurut Dicky, pemahaman terhadap sejarah daerah, budaya, hingga toponimi bukan hanya penting untuk menjaga identitas. Lebih dari itu, hal tersebut bisa melahirkan industri kreatif baru, mulai dari kerajinan, pariwisata, hingga perfilman yang mampu membuka lapangan kerja bagi generasi muda.

Seni sebagai Sarana Membentuk Karakter

Menutup sambutannya, Dicky mengajak para peserta Peksimida Jawa Barat untuk terus berkarya melalui seni. Ia menilai seni bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sarana membentuk kepekaan sosial dan karakter.

“Jangan pernah menyerah untuk terus berkarya. Seni membuat kita memahami keindahan, dan mudah-mudahan membuat orang pintar tidak merasa pintar, tetapi menjadi pintar merasa,” pungkasnya.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: priangan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top