BANDUNG BARAT — Puluhan karya dari pelukis muda berkebutuhan khusus memenuhi ruang Galeri Panyawangan-Bale Pare, Kota Baru Parahyangan. Pameran bertajuk Art Spectrum: Keindahan yang Beragam ini menghadirkan 21 perupa muda dengan spektrum autis, down syndrome, dan cerebral palsy.
Para pengunjung tampak antusias memotret karya-karya yang dipajang. Setiap lukisan dan instalasi memiliki ciri khas visual yang kuat—mulai dari goresan abstrak penuh warna hingga figuratif yang detail.
Pameran ini tidak sekadar memajang karya. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang aman bagi para perupa muda untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan standar estetika konvensional. "Keindahan yang Beragam" sengaja dipilih sebagai tema untuk menegaskan bahwa seni tidak punya satu tolok ukur tunggal.
Karya-karya yang ditampilkan berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Beberapa di antaranya bahkan sudah pernah mengikuti pameran bersama di tingkat provinsi sebelumnya.
Pemilihan waktu penyelenggaraan bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026. Pameran ini diharapkan mampu mendorong pengakuan terhadap potensi anak-anak dengan kebutuhan khusus—tidak hanya dari sisi pendidikan, tetapi juga dari sisi kreativitas dan kontribusi sosial.
Para orang tua dan pendamping yang hadir mengaku bangga. Mereka melihat sendiri bagaimana anak-anak mereka percaya diri menunjukkan hasil karya di depan publik.
Menurut panitia, pameran akan berlangsung hingga 30 Juli 2026. Tiket masuk tidak dipungut biaya, sehingga masyarakat umum bisa datang dan menikmati langsung puluhan karya seni rupa inklusif ini.
Meski gerakan inklusivitas di dunia seni rupa Indonesia mulai tumbuh, ruang pamer yang secara khusus menampilkan karya perupa neurodivergen dan cerebral palsy masih terbatas. Bandung Barat menjadi salah satu daerah yang mulai membuka jalur itu melalui Art Spectrum.
Ke depan, panitia berencana menjadikan pameran ini agenda tahunan. Dengan begitu, para perupa muda istimewa memiliki panggung tetap untuk terus berkarya dan dikenal publik lebih luas.