JAWA BARAT — Klarifikasi ini disampaikan langsung oleh jajaran manajemen PT BYD Motor Indonesia pekan lalu. Mereka menegaskan bahwa tidak ada satupun kontainer yang berisi mobil utuh yang menumpuk di area pelabuhan. Informasi ini penting mengingat beberapa waktu lalu beredar foto dan video yang memperlihatkan tumpukan kontainer bermerek BYD di Tanjung Priok.
Menurut penjelasan resmi, kontainer-kontainer tersebut berisi kendaraan dalam keadaan terurai atau Completely Knocked Down (CKD). Artinya, isi kontainer adalah komponen-komponen mobil yang akan dirakit di pabrik BYD di Subang, Jawa Barat. Proses perakitan lokal ini merupakan bagian dari strategi BYD untuk memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Dengan skema CKD, BYD tidak hanya mengimpor mobil jadi, tetapi juga membangun ekosistem manufaktur di Indonesia. Langkah ini sekaligus menjadi syarat untuk mendapatkan insentif dari pemerintah bagi kendaraan listrik.
Fenomena kontainer yang tampak menumpuk di pelabuhan sebenarnya adalah hal lumrah dalam rantai pasok industri otomotif. PT BYD Motor Indonesia menjelaskan bahwa penumpukan terjadi karena proses bongkar muat dan bea cukai yang berjalan secara simultan. Tidak ada kendala berarti yang menyebabkan keterlambatan distribusi komponen ke pabrik.
“Proses impor komponen CKD memang membutuhkan waktu untuk pemeriksaan dan clearing di pelabuhan. Ini prosedur standar yang juga dilakukan oleh pabrikan lain,” ujar perwakilan PT BYD Motor Indonesia dalam pernyataan tertulisnya.
Klarifikasi ini sekaligus menepis kekhawatiran konsumen yang sempat bertanya-tanya soal ketersediaan unit. BYD memastikan bahwa produksi di pabrik Subang tidak terganggu. Rencana peluncuran model-model baru seperti BYD M6 dan BYD Atto 3 versi lokal pun masih sesuai jadwal.
Bagi konsumen yang sudah melakukan pemesanan, tidak perlu khawatir soal waktu pengiriman. Pasokan komponen dari kontainer-kontainer yang sempat menjadi sorotan justru akan mempercepat proses produksi di dalam negeri.
Dengan adanya klarifikasi ini, publik kini bisa bernapas lega. Tidak ada masalah pasokan atau penimbunan mobil impor di pelabuhan. BYD justru sedang memperkuat basis produksinya di Indonesia.