Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Prioritaskan Bangun Tajug di Permukiman Padat, Bukan Masjid Megah

Penulis: Prayoga Santana  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:38:01 WIB
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi prioritaskan pembangunan tajug di permukiman padat sebagai pusat spiritualitas.

BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengubah arah kebijakan pembangunan masjid. Alih-alih mendirikan bangunan megah, Gubernur Dedi Mulyadi kini memprioritaskan pembangunan tajug atau masjid kecil di tengah permukiman warga.

Menurut Dedi, langkah ini diambil untuk mengembalikan fungsi utama rumah ibadah sebagai pusat spiritualitas. Ia menilai banyak masjid saat ini mengalami pergeseran fungsi.

Masjid Besar Dinilai Bergeser Jadi Tempat Swafoto

"Kalau masjid sarana rekreasi, bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat swafoto, bukan tempat tafakur," kata Dedi di Bandung, Jumat.

Baginya, aspek spiritualitas kerap kalah menonjol dibandingkan daya tarik arsitektur bangunan. Kemegahan fisik justru mendorong masyarakat datang untuk berfoto, bukan beribadah atau merenung. Kondisi ini dinilai menggerus esensi keberadaan rumah ibadah.

Target: Membangun Masjid yang Ada Jamaahnya

Pemprov Jabar pun mengarahkan pembangunan lebih banyak tajug di lingkungan padat penduduk. Tujuannya mendekatkan sarana ibadah kepada masyarakat yang membutuhkannya setiap waktu.

"Kami ingin membangun masjid-masjid kecil di lingkungan masyarakat yang membutuhkannya setiap waktu. Masjid-masjid megah sudah banyak di Jawa Barat," ujar Dedi.

Konsep ini bertujuan menghidupkan kembali fungsi surau sebagai pusat kegiatan keagamaan tanpa menambah struktur pengelolaan baru. Dedi menegaskan targetnya bukan bangunan fisik, melainkan komunitas yang aktif.

"Kami ingin membangun masjid yang ada jamaahnya, tempat anak-anak mengaji, dan menjadi ruang ibadah masyarakat," katanya.

Nilai Ibadah Tidak Ditentukan Kemegahan Bangunan

Mantan Bupati Purwakarta itu menegaskan bahwa nilai ibadah tidak ditentukan oleh seberapa megah bangunan masjid. Kualitas hubungan spiritual seseorang dengan Tuhan menjadi tolok ukur utama.

Menurut Dedi, tempat bukan faktor utama dalam membangun kedekatan spiritual. Yang terpenting adalah keheningan batin dan kemampuan menghadirkan nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari. Kebijakan ini menjadi penekanan baru di tengah tren pembangunan masjid yang kerap mengedepankan aspek arsitektur dan fasilitas publik.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: jabar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top